LANGIT7.ID-Salah satu peninggalan KH Noer Muhammad Iskandar SQ setelah beliau meninggal adalah Pondok Pesantren (Ponpes) Asshiddiqiyah.
Ponpes Asshiddiqiyah didirikan almarhum KH Noer Muhammad Iskandar SQ pada bulan Rabiul Awal 1406 H atau pada bulan Juli 1985.
Setelah hampir 40 tahun berdiri, Ponpes Asshiddiqiyah berkembang pesat menjadi salah satu tujuan orangtua menyekolahkan anaknya di pesantren.
Ponpes Asshiddiqiyah senantiasa eksis dan tetap pada komitmennya sebagai benteng perjuangan syiar Islam. Di usianya saat ini, Ponpes Asshiddiqiyah sudah memiliki 12 pesantren yang tersebar di beberapa daerah di pulau Jawa dan Sumatra.
Dibangun dari keprihatinan dan serba kekurangan Ponpes Asshiddiqiyah dibangun dari keprihatinan dan serba kekurangan. Kisahnya bermula saat Noer Muhammad Iskandar dengan beberapa temannya mendirikan Yayasan Al-Muchlisin di Pluit.
Berbagai kegiatan pendidikan yang sudah mulai dirintis, terus ia tangani dengan sepenuh hati. Bahkan, kegiatan yang berawal dari remaja Masjid Al Muchlisin ini, telah berkembang menjadi madrasah Diniyah, yang lambat laun mulai mendapat simpati masyarakat. Bukan hanya itu, undangan ceramah juga mulai berdatangan kepada dirinya.
Singkat cerita, Noer Muhammad Iskandar kemudian bertemu sahabatnya, H Bambang Sudayanto, Kepala PPL Pluit.
"Ia bercerita tentang sukses pekerjaannya yang terkait dengan Pantai Mutiara Indah Kapuk. Kedatangannya ingin berterima kasih atas doa saya, ia bisa meraih sukses dengan pekerjaaannya. Sebagai ungkapan terima kasih, ia memberikan saya sebuah kios kecil di Pluit dan biaya untuk saya berangkat haji. Hadiah ini sangat mengharukan saya. Air mata pun tak terasa menetes. Ya Allah, Engkau telah membuka jalan kami,” ungkap Kiai Noer.
“Rupanya, sesuatu yang saya anggap besar, masih ada yang lebih besar. Ketika saya akan mengurus keberangkatan haji atas biaya dari H Bambang tahun 1983, pendaftaran sudah tutup. Namun saya tidak mau menunda keberangkatan, karenanya saya menemui kawan lama H Rosyidi Ambari, Asisten Menteri Agama saat itu,” kenangnya.
“Alangkah terkejut ia, karena memang sudah lama mencari-cari saya untuk diminta mengelola sebidang tanah di Kedoya untuk dijadikan lembaga pendidikan. Tanah ini diserahkan keluarga H Jaani kepada H Rosyidi untuk dibangun menjadi lembaga pendidikan Islam," begitu kisah Noer Muhammad Iskandar semasa hidupnya dikutip dari asshiddiqiyah.com
Kemudian, Noer Muhammad Iskandar mulai membangun tanah wakaf tersebut menjadi lembaga pendidikan Islam.
Awalnya bangunan mushola kecil dari tripleks. Modal membangunnya dari H Abdul Ghani, putra ketiga H. Djaani. Seperti kisah sukses pada umumnya, Asshiddiqiyah pun merintis dengan keprihatinan.
Dan dari sana, dari lahan wakaf yang seluas 2000 meter di Kedoya, kemudian berkembang menjadi 2,4 ha. Lalu di Batu Ceper sudah berkembang menjadi enam hektare, di Cilamaya menjadi 11 hektare dan yang di Cijeruk menjadi 42 hektare.
Semua ponpes cabang tersebut menjadi bagian pengembangan Asshiddiqiyah hingga saat ini.
Ponpes Asshiddiqiyah memiliki program pendidikan berjenjang untuk santrinya:
1. Madrasah Tsanawiyah/MTs ( Terakreditasi A)
2. Sekolah Menengah Pertama/SMP ( Terakreditasi A)
3. Madrasah Aliyah/MA (Terakreditasi A)
4. Sekolah Menengah Atas/SMA ( Terakreditasi A)
5. Sekolah Menengah Kejuruan/SMK ( Terakreditasi A) Program Otomotif, Bisnis dan Manajemen, Multimedia, TKJ ( Asshiddiqiyah Batu Ceper dan Karawang)
6. Madrasah Ibtidaiyah (Asshiddiqiyah Karawang)
7. Madrasah Diniyah
8. Ma’had Aly Sa’iidusshiddiqiyah berbeasiswa program S1 (Konsentrasi Syariah, Ilmu Al-Qur’an dan Tarbiyah)
9. Pesantren DIKTERAPAN (Pendidikan Terpadu Anak Harapan) berbeasiswa, menampung anak yatim, anak
Demikian sekelumit perjalanan Ponpes Asshiddiqiyah. Semoga bermanfaat.***
(hbd)