LANGIT7.ID-Melihat perjalanan KH Noer Muhammad Iskandar SQ semasa hidup, maka bisa dikatakan sebagai perjalanan penuh perjuangan.
Sosok kelahiran Banyuwangi 5 Juli 1955 ini dari pasangan Kyai Iskandar dengan Nyai Rabiatun ini memulai pendidikannya di pesantren tradisional Jawa Timur.
Ia kemudian sekolah di Jakarta dan mengembangkan pondok pesantren di kota besar dengan karakter budaya yang berbeda dengan kultur dasarnya. Hingga akhirnya pesantren yang didirikannya, Ponpes Asshiddiqiyah kini sudah memiliki puluhan cabang tersebar di Jawa hingga Sumatra.
KH Noer Muhammad Iskandar SQ wafat pada 13 Desember 2020 di RS Siloam Kebon Jeruk, Jakarta Barat.
Mengenang kiprah beliau, KH Mustofa Bisri atau Gus Mus saat pelaksanaan haul ke-4 Abah Noer di Ponpes Asshiddiqiyah Jakarta menyebut kalau Kiai Noer merupakan kiai desa yang sukses berdakwah di kota.
“Kiai Noer Muhammad ini orang desa, belajarnya di desa dan kepada guru-guru desa. Kemudian beliau pergi ke kota untuk berdakwah dan ini sangat jarang sekali.
Kebanyakannya adalah orang-orang kota yang datang ke desa lalu menyebarkan budayanya. Kiai Noer sangat berbeda, beliau sukses dalam berdakwah bahkan mampu membangun sebelas cabang Ashhidiqiyah” tutur Kiai Bisri dikutip dari asshiddiqiyah.com.
Adapun alasan Kiai Bisri menyebut jika amaliyah di desa lebih dekat dengan gaya hidup Rasulullah Saw adalah karena menurutnya banyak kebiasaan masyarakat desa yang meniru pola hidup Nabi Muhammad Saw, seperti suka menerima dan memuliakan tamu (ikram ad-duyuf).
Tidak hanya itu, orang-orang desa juga mencintai kebersamaan yang terlihat dari adat mereka ketika ada orang yang mendirikan rumah atau meninggal dunia.
“Kebiasaan masyarakat desa sangat mirip dengan Rasulullah Saw seperti dalam menyambut tamu, membangun rumah atau ketika ada yang meninggal. Coba kita lihat di desa-desa, jika ada yang meninggal mereka langsung beranjak ke rumah tersebut untuk melayat," tuturnya.
Menurut Gus Mus sapaan akrabnya, di kota, Kiai Noer tidak hanya menyebarkan ilmu tapi juga budaya. Budaya-budaya yang ada di desa dibawa ke kota.
Akhirnya, di kota-kota mulai terlihat budaya orang-orang desa seperti eratnya kekeluargaan yang terlihat di dalam acara haul dan sebagainya.(*)
(hbd)