LANGIT7.ID, Jakarta - Dampak pandemi Covid-19 menyasar kepada banyak pihak tanpa pandang buluh. Selain sektor kesehatan yang semakin diguncang akibat banyaknya orang yang terjangkit virus korona, bahkan menyebabkan kematian. Pandemi juga menyebabkan angka pengangguran naik, sehingga perekonomian masyarakat pun turut terganggu.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) 5 Mei 2021, terdapat 19,10 juta orang (9,30 persen penduduk usia kerja) yang terdampak Covid-19. Terdiri dari pengangguran karena Covid-19 (1,62 juta orang), Bukan Angkatan Kerja (BAK) karena Covid-19 (0,65 juta orang), sementara tidak bekerja karena Covid-10 (1,11 juta orang), dan penduduk bekerja yang mengalami pengurangan jam kerja karena Covid-19 (15,72 orang).
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menjadi momok yang menakutkan bagi mereka yang hidup bergantung dari penghasilan di sebuah perusahaan. Namun, hal ini tidak bisa dihindari, mengingat untuk bertahan, perusahaan tidak memliki pilihan lain seperti melakukan pemangkasan terhadap karyawan mereka.
Sementara survei yang dilakukan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), setidaknya 17,8 persen perusahaan melakukan PHK selama pandemi Covid-19. Selain itu, 25,6 persen perusahaan merumahkan pekerjanya, dan 10 persen perusahaan melakukan keduanya.
Dari data Kemnaker pada 2020 menunjukkan sekitar 88 persen perusahaan terdampak pandemi mengakibatkan kerugian pada operasional perusahaan.
Lalu bagaimana karyawan yang terkena PHK ini harus menyikapinya? Putus asa bukanlah sebuah jawaban yang harus ditelan. Namun, seseorang harus memiliki kemauan untuk tetap bertahan dikala pandemi seperti ini.
Seperti kisah Ronny (32) yang merupakan seorang editor di perusahaan media. Ia menjadi salah satu di antara ribuan orang yang juga terkena PHK di tempatnya bekerja.
Ronny yang sempat mengabdi selama 14 tahun di perusahaan media akhirnya harus terkena dampak dari pandemi. Menganggur bukanlah pilihan baginya, usai di PHK, ia mencoba peruntungannya di dunia bisnis sebagai wirausaha.
Ronny memulai usahanya dengan menjadi agen parfum dan berjualan ikan cupang. Bukan tanpa alasan, seperti diketahui , pada awal hingga pertengahan 2020 lalu pasar ikan cupang sempat naik akibat banyaknya orang yang beralih melakoni hobi mereka untuk mencari kesibukan.
Bahkan, video dengan judul “Diwan Beli Ikan Cupang” sempat viral setelah di upload fikrifadlu ke channel Youtubenya pada pertengahan 2019, dengan jumlah penonton sebanyak 30 juta orang. Tidak ada yang menarik sebenarnya, dalam video yang berdurasi selama hampir lima menit ini hanya menunjukkan seorang anak kecil yang membeli ikan cupang di sebuah toko.
Namun, tentu ini adalah peluang bisnis bagi Ronny. Walaupun ia mengaku pada awalnya sempat mengalami pasang suruh dalam berwirausaha.
“Ya, setelah di PHK saya beralih profesi jualan parfum sepatu dan jualan ikan cupang,” ujarnya.
Ia mengaku butuh kerja keras dalam membangun usahanya itu. Tapi ia optimistis sembari memahami betul seluk-beluk usaha yang ia geluti.
Delapan bulan menjalani usahanya, dan sempat kesulitan di awal, kini Ronny mengaku sudah mendapatkan keuntungan yang lumayan. Walau begitu, ia tetap berharap agar pandemi ini bisa berakhir secepatnya.
Sementara kisah lainnya datang dari seorang mantan karyawan di bidang industri hopitallity. Maulana Yusuf (42) juga bernasib sama dengan Ronny dan orang-orang lainnya yang di PHK oleh perusahaan akibat pandemi.
Pria yang tinggal di Karang Tengah, Tangerang, Banten ini juga kehilangan pekerjaannya. Padahal, saat itu ia memiliki seorang istri dan dua anak yang masih sekolah.
PHK yang dialaminya tentu mempengaruhi kehidupan keluarganya. Demi menyambung hidupnya beserta keluarga, Maulana harus memutar otak untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup.
Langkahnya tidak berhenti setelah di PHK, ia memutuskan untuk memulai usaha di bidang kuliner. Dibantu istirnya, Maulana membangun usaha ayam tulang lunak di rumah mereka.
Tidak ada yang instan, merangkak dari bawah, Maulana memasarkan produknya kepada orang terdekat, seperti teman dan keluarganya.
"Promosi melalui WhatsApp gencar dilakukan demi menarik pembeli. Kalau ada yang berminat bisa pesan untuk diantar atau makan langsung di lapak saya. Saya berusaha dengan semua yang saya bisa untuk melanjutkan hidup, saya usaha seperti ini," ujar Maulana.
Di sisi lain, Menteri Pariwisata, Sandiaga Uno mengatakan, krisis yang terjadi saat ini bisa menjadi peluang atau bahkan masalah. Oleh karena dibutuhkan kejelian untuk menghadapi krisis seperti ini.
"Saya share pengalaman pribadi, saya adalah pengusaha yang lahir dari krisis keuangan tahun 97/98. Saya korban PHK, waktu itu masuk kantor dan dapat surat PHK, dunia serasa gelap. Tapi ternyata di balik musibah tersebut berubah menjadi hikmah, saya membuka usaha kecil di bidang konsultan keuangan," kata Sandi.
Bukan tanpa alasan, Sandiaga membuka usaha di bidang konsultan keuangan, karena ia melihat adanya peluang di mana saat itu banyak perusahaan yang membutuhkan restrukturiasi hutang karena dihantam krisis.
"Jadi jangan putus asa, kalau krisis itu bisa danger dan opportunity. Di balik kesulitan ada kemudahan, jangan putus asa, patah semangat justru ini ada peluang di sekitar kita," sambungnya.
Sementara, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Puan Maharani mengungkapkan, krisis dikala pandemi tidak menghalangi pengusaha untuk bangkit. Menurutnya, pengusaha selalu bisa mencari peluang baru untuk beradaptasi.
"Saya yakin, yang namanya pengusaha adalah yang selalu bisa menemukan kesempatan di tengah kesulitan, yang bisa membuka jendela peluang baru untuk beradaptasi dengan situasi," kata Puan dalam Markplus Conference, Rabu (9/12) lalu.
Puan menambahkan, semakin besar sebuah tantangan dalam usaha, maka semakin besar pua peluang di dalamnya. Maka, lanjut Puan, dalam dunia usaha diperlukan tiga hal yang menjadi penting untuk dilakukan, yakni optimistis, kreatif dan berani berinovasi.
(zul)