LANGIT7.ID-Siapa yang tidak kenal nama Ahmad Rofiq? Di dunia politik, nama Ahmad Rofiq sudah terlalu populer karena kiprahnya yang malang melintang sehingga sangat mudah dikenali. Hanya, Ahmad Rofiq belum seberuntung politisi politisi seangkatannya banyak yang sudah duduk di parlemen bahkan ada yang menjadi menteri.
Sebenarnya ia mempunyai banyak peluang baik di parlemen maupun jabatan strategis lainnya. Tetapi idialisme Ahmad Rofiq yang menyebabkan terjadi "benturan" sehingga beberapa kali mempunyai momentum besar tidak dimanfaatkan.
Background aktivisnya yang terlalu kuat membuat berpolitiknya tidak bisa mengikuti temen temen politisi lainnya yang permissive. Idialisme, etika, moral masih dipegang kuat sehingga tidak bisa mudah membaurkan dirinya dalam kontek politik yang full permissive.
Ada benarnya apa yang menjadi komitmen kuat Ahmad Rofiq karena ia ingin berpolitik yang mencerahkan, berpolitik yang membangun gagasan untuk sebuah kemajuan bangsa. Itulah Goal berpolitik yang selalu diperjuangkan. Tapi idialisme berpolitik Ahmad Rofiq juga ada salahnya karena ia tidak bisa melesat cepat seperti temen temen politisi lainnya yang bisa duduk di singgasana singgasana mewah.
Meskipun ia tidak bisa seperti politisi lain yang sudah menikmati singgasana, alumni teknik elektro Universtas Muhammadiyah Malang ini, tidak merasa kecewa: perjuangan mempunyai jalur sendiri sendiri.
Kini, dengan idialisme baru ia membidani lahirnya partai baru yang diberi nama: Partai Gema Bangsa. Partai ini dibangun setelah melalui perenungan yang panjang hingga akhirnya berani mengambil keputusan mandiri alias membangun partai sendiri.
Pertanyaannya, masihkah mempunyai peluang partai baru dalam pemilu 2029? Bukankah saat ini sudah ada 18 partai nasional dan 6 partai lokal?
Jika melihat data KPU, dari pemilu 2024 jumlah pemilih yang ditetapkan 204.807.222 juta, dimana 55 persennya adalah pemilih anak muda. Tetapi masih menurut data KPU, pemilih yang menggunakan hak pilihnya baru 164.227.475 atau 81 persen. Artinya masih ada peluang 19 persennya yang bisa dimanfaatkan untuk partai baru. Itu pun masih ada potensi swing voters yang akan hijrah ke partai baru. Dalam kontek ini, potensi partai baru untuk dapat meraih suara masih terbuka lebar meskipun saat ini partai existing jumlahnya sudah lumayan banyak:18 partai nasional dan 6 partai lokal di Aceh.
Yang membuat keyakinan partai baru seperti Partai Gema Bangsa masih memiliki peluang besar karena 3 hal:
Pertama: infra struktur partai. Meskipun Partai Gema Bangsa adalah partai baru tetapi keberadaannya sudah seperti partai lama atau partai yang mapan. Salah satu key success factor partai adalah memiliki infrastruktur lengkap (kepengurusan) di semua provinsi. Dan Partai Gema Bangsa sudah memastikan bahwa dalam perspektif kepengurusan sudah sangat siap.
Kedua; Partai Gema Bangsa memiliki different angle atau uniqness dengan partai lain. Salah satu yang sangat menonjol adalah gagasan besar tentang konsep desentralisasi politik yang memberi otoritas penuh bagi pimpinan wilayah, pimpinan daerah dan pimpinan cabang untuk mengatur kepentingan politik daerahnya masing masing. Konsep desentralisasi ini juga memberi kebanggaan daerah sehingga tidak merasa menjadi "anak tiri" atau "anak angkat" yang selalu diintervensi kepentingannya oleh kepengurusan pusat. Dengan konsep desentralisasi juga menempatkan daerah menjadi lebih equal dengan pusat. Inilah yang akan menjadi motivasi besar bagi daerah dalam pertempuran politik di daerah untuk menjadi pemenang.
Ketiga; faktor figur dan leadership. Figur Ketua Umum Partai Gema Bangsa Ahmad Rofiq memenuhi kualifikasi sebagai pimpinan partai yang memiliki potensi menjadi partai besar. Ia figur yang masih muda, energik, humble, berfikir futuristik, akseptable untuk semua lapisan masyarakat karena figurnya yang kental dengan religius nasionalis yang sangat matching dengan basis sosial masyarakat. Selain itu, ia masuk katagori figur yag tidak ada potensi konflik, tidak memiliki gap dengan aliran aliran atau kelompok politik. Karakter yang ia miliki ini akan memudahkan untuk berbaur dan bergumul dengan kekuatan kekuatan politik dari parpol existing.
Dalam perspektif politik, back ground keilmuan politiknya plus experiences politik yang dikuasainya pantas menempatkan Ahmad Rofiq; jika berada di dunia kampus tidak menutup kemungkinan akan disebut guru besar, kalau di lingkungan Muhammadiyah akan disebut Buya dan jika berada di lingkungan NU bisa disebut Kiai Khos. Predikat predikat tersebut memang menarik karena sudah inherent dengan latar belakang figur Ahmad Rofiq sebagai Ketua Umum Partai Gema Bangsa. Kini tinggal melihat ke depan bagaimana ia memainkan peran besar dalam menata orkestra agar menjadi harmoni indah yang membuat publik terhipnotis dengan suara partainya yang menggema ke seluruh nusantara.
Sebagai nahkoda partai baru publik juga akan melihat bagaimana ia membawa pesawat secara akselaratif dengan keseimbangan yang baik menuju pemilu 2029 hingga bisa menempatkan kader kader terbaiknya duduk di senayan. Believe in Allah, Ketua Umum Partai Gema Bangsa can do it! dalam menahkodai partainya menuju senayan lewat pemilu 2029(sururi al faruq/*)
(lam)