LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Juru bahasa isyarat (JBI) berperan besar dalam upaya penyebaran informasi yang lebih inklusivitas, terutama untuk orang-orang berkebutuhan khusus. Pada kehadirannya, seringkali kita melihat JBI selalu mengenakan pakaian serba hitam. Ternyata, hal ini ada alasannya
loh.
Kehadiran juru bahasa isyarat semakin banyak dibutuhkan di berbagai instansi, baik pemerintahan maupun swasta. Serta berbagai momen maupun acara.
Berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang
Penyandang Disabilitas, di mana layanan bahasa isyarat merupakan hak yang harus dijamin oleh negara. Dengan demikian aksesibilitas ini sangat penting untuk dipenuhi karena mereka berhak mendapatkan informasi yang setara dengan orang non-disabilitas.
JBI merupakan jembatan penghubung komunikasi bagi
Teman Tuli, baik dengan sesama Tuli maupun dengan Teman Dengar. Secara sederhana, seorang JBI bertugas untuk menerjemahkan bahasa lisan atau penutur ke bahasa isyarat dan sebaliknya.
Umumnya, JBI akan menerjemahkan setiap kata atau mencari padanannya agar informasi yang disampaikan dapat diterima oleh teman-teman tunarungu dengan jelas dan kontekstual.
Dalam melaksanakan tugasnya, seorang JBI selain harus menguasai bahasa isyarat, mereka juga memiliki sejumlah kode etik dalam bertugas. Salah satunya kode etik dalam berpakaian.
Jika kita perhatikan, dalam setiap tugasnya, seorang JBI selalu menggunakan busana berwarna gelap yakni hitam atau biru tua. Bukan tanpa alasan, apalagi kebebasan JBI memilih
outfit sendiri.
Ratih Dwi, guru Bahasa Indonesia dari Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 1 Jakarta mengatakan bahwa penggunaan busana berwarna hitam bagi JBI saat bertugas berfungsi untuk mengurangi distraksi dari audien.
"Kalau kita menggunakan pakaian yang bermotif, takutnya akan mengganggu fokus dari audien yang merupakan Teman Tuli," kata Ratih Dwi yang juga merupakan seorang juru bahasa isyarat, mengutip laman resmi
vokasi.kemendikdasmen.go.id, dilihat Rabu (7/5/2025).
Menurut Ratih Dwi, saat menyampaikan bahasa isyarat, fokus audiens harus diarahkan pada gerak tangan. Penggunaan warna yang cerah, terlebih busana bermotif, dikhawatirkan akan mengganggu fokus audiens, utamanya Teman Tuli dalam menangkap bahasa isyarat yang sedang disampaikan.
Selain itu, tidak hanya dengan gerak tangan, seorang JBI juga biasanya menggunakan ekspresi mimik wajah agar pesan yang disampaikan lebih mudah. Penggunaan busana bermotif dan juga warna cerah juga ditakutkan akan mengganggu konsentrasi dari Teman Tuli.
Seorang JBI, lanjutnya, saat bertugas sebaiknya tidak memakai perhiasan atau aksesoris yang dapat mengalihkan perhatian insan tuli saat menerjemahkan bahasa isyarat.
"Jadi, sebaiknya juga jangan memakai gelang, kalung, atau jam tangan yang berlebihan," ungkap Ratih Dwi.
(lsi)