Juru bahasa isyarat (JBI) berperan besar dalam upaya penyebaran informasi yang lebih inklusivitas, terutama untuk orang-orang berkebutuhan khusus. Pada kehadirannya, seringkali kita melihat JBI selalu mengenakan pakaian serba hitam. Ternyata, hal ini ada alasannya loh.
Karena dunia sekitarnya tidak tahu dan tidak mau menyentuh dunia mereka, tidak mau mendalami dunia mereka. Ini yang menyebabkan mereka tidak mengenal agama karena kita tidak ada yang mau mengenalkan kepada mereka,
Salah satu hak penyandang disabilitas yang tercantum dalam UU No.8/2016 adalah hak mengenai keagamaan. Angkie mengatakan, negara menjamin para peserta didik penyandang disabilitas mempunyai kesamaan hak untuk mengenal, mempelajari, dan mengamalkan ajaran agama yang mereka percaya.
Santri Pondok Pesantren Tunarungu Darul A'shom, Sleman, Yogyakarta menghafal Al-Qur'an tidak seperti santri pesantren tahfidz pada umumnya. Itu karena mereka diberi kekhususan berinteraksi menggunakan visual, bukan pendengaran.
Ustadz Abu Kahfi adalah sedikit dari ustadz yang mengabadikan dirinya untuk difabel terutama teman tuli. Lewat Pesantren Tunarungu Darul A'shom, dia mengenalkan Allah SWT kepada umat Islam yang tak bisa mendengar ceramah dan firman Ilahi.
Saat berkunjung ke pesantren tahfidz sangat umum terdengar riuh bacaan Al-Qur'an. Tapi berbeda saat bersua dengan santri-santri Pondok Pesantren Tunarungu Darul A'shom, Depok, Sleman, Yogyakarta.
Sangat jarang pesantren yang diperuntukkan bagi disabilitas termasuk untuk teman teman tuli. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Darul Ashom yang terletak di Sleman, Yogyakarta. Pesantren yang didirikan pada September 2019 ini dipimpin oleh Ustadz Abdul Kahfi.
Penyuluh Agama Islam (PAI) Kanwil Kemenag Gorontalo, Riska Duduti merasa tersentuh saat melihat anak tuli datang ke TPA namun tak bisa memahami Al-Qur'an, maka ia merumuskan metode pengajaran Al-Qur'an untuk teman tuli dan berjuang mengajarkannya.