LANGIT7.ID - , Jakarta - "Jika penyandang
disabilitas (tunarungu) bisa paham akan dunia, mengapa dalam agama tidak?"
Berangkat dari pemikiran ini, Pengasuh
Pondok Pesantren Rumah Tahfiz Tunarungu Darul A'Shom, Yogyakarta,
Ustaz Abu Kahfi terdorong untuk membuka rumah tahfiz untuk teman-teman tuli.
Menurut dia, hal yang menyebabkan banyak
teman tuli tidak mengenal agama karena lingkungan sekitar tidak mendukung dan menyentuh dunia mereka.
Baca juga: Santri Darul A'shom Dengar Kalam Ilahi dengan Hati, Hafalkan Qur'an dalam Sunyi"Karena dunia sekitarnya tidak tahu dan tidak mau menyentuh dunia mereka, tidak mau mendalami dunia mereka. Ini yang menyebabkan mereka tidak
mengenal agama karena kita tidak ada yang mau mengenalkan kepada mereka," ujar Ustaz Abu Kahfi dalam Mimbar
Langit7.id bertajuk Hak Disabilitas (Tunarungu) Mengenal Islam, Selasa (27/9/2022).
Padahal, lanjut dia teman-teman tuli ini memiliki IQ yang tinggi. Namun, tidak terlihat karena tidak ada yang memberikan jembatan ilmu.
"Luar biasa ternyata, ada potensi yang besar yang kita tidak perkirakan. Mereka punya IQ tinggi, tetapi belum muncul potensinya ketika tidak ada jembatan ilmu. Jembatan ilmu tersebut berupa bahasa yang mereka paham," katanya.
Dia pun menceritakan bagaimana saat dirinya memperkenalkan huruf-huruf Al-Quran dan
fikih dalam
bahasa isyarat.
"Saya ketika kenalkan mereka huruf-huruf Al-Quran, dan perkenalkan fikih dalam bahasa isyarat, ternyata mereka cepat memahami dan amalkan," lanjut dia.
Baca juga: Darul A’shom, Pesantren Al-Qur'an untuk Teman Tuli di YogyakartaLebih lanjut, Ustaz Abu Kahfi menyebut teman-teman tuli berhak dalam mempelajari agama dan mendapatkan rahmat dari Allah SWT. Dan semua orang berkewajiban membantunya.
"Mereka berhak dan kita berkewajiban. Mereka berhak mendapatkan agama seperti kita, mengamalkan agama dan mendapatkan rahmat dari Allah," katanya.
Kemudian, Ustaz Abu Kahfi menceritakan saat santrinya ditanya alasan keinginan mereka belajar agama. Saat itu, tambah Ustaz Abu Kahfi, jawaban mereka seakan menampar kita yang memiliki kesempurnaan fisik.
"Ada yang pernah bertanya kepada santri kami mengapa kamu harus mengaji, dia berkata 'Allah SWT berfirman, saya juga manusia, maka saya harus beribadah kepada Allah," ucapnya.
"Dia menyampingkan hambatan pendengarannya dengan tetap meyakini dan mengambil bagaimana perintah Allah ini untuk dirinya. Ini tamparan bagi kita, yang lebih lengkap atau lebih sempurna dari mereka, tapi kita terkadang lupa dengan Allah," lanjut Abu Kahfi.
Baca juga: Rumah Tahfidz Darul A'Shom Bantu Tunarungu Baca AlquranDalam surat An-Nur ayat 51 dijelaskan,
"Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, 'Kami mendengar, dan kami taat.' Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."
(est)