LANGIT7.ID, Yogyakarta - Pesantren pada umumnya memiliki santri normal. Sangat jarang yang diperuntukkan bagi disabilitas termasuk untuk teman teman tuli. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Darul A’shom yang terletak di Sleman, Yogyakarta. Pesantren yang didirikan pada September 2019 ini dipimpin oleh Ustadz Abu Kahfi.
Ada sekitar puluhan santriwan dan santriwati yang berasal dari berbagai provinsi. Mereka tak hanya menghafal Al-Qur’an, tapi juga ilmu tauhid dan ragam ilmu Islam lain. Aktivitas belajar-mengajar sangat berbeda dengan pesantren lain.
Di tempat ini kesenyapan menjadi ciri khas. Tapi tangan santri sangat lincah bergerak ke sana kemari membaca dan menghafal Al-Qur’an. Bukan tanpa alasan, mereka belajar menggunakan bahasa isyarat.
Baca Juga: Teman Tuli Juga Berhak Pelajari Al-Quran, Muslimah Ini Temukan Metode Pengajarannya
Pesantren itu dibangun berawal dari keprihatinan Ustadz Abdul Kahfi terhadap pendidikan anak-anak tunarungu. Dia lalu mendirikan pesantren untuk membantu mereka belajar dan membaca kitab suci Al-Qur’an.
Dia melihat banyak teman tuli yang awam tentang pengetahuan agama. Saat pindah ke Yogyakarta, ustadz berusia 48 tahun ini mengajar anak-anak yang istimewa karena harus memahami dan mengerti bahasa mereka.
Ustadz Abu Kahfi belajar bahasa isyarat secara otodidak. Awalnya, dia bertemu dengan dua anak tunarungu di Jakarta. Kedua anak itu lalu diajak ke sebuah pondok pesantren di Bandung. Dua anak itu lalu sering diajak ke rumahnya.
Setelah mahir menggunakan bahasa isyarat, Ustadz Abu Kahfi kerap diundang berceramah menggunakan bahasa isyarat tersebut. Tak sampai di situ, dia juga mengajari istri dan anak-anaknya, sehingga satu keluarga itu kini bisa berbahasa isyarat.
Ustadz Abu Kahfi lalu mendirikan pondok pesantren saat pindah ke Yogyakarta. Dia ingin membantu anak-anak tunarungu mengenal agama mereka lebih mendalam, serta bisa menghafal Al-Qur’an. Di pesantren itu pula, pelajaran-pelajaran agama diajarkan.
Mengutip laman resmi Kemenag, pesantren ini diasuh 12 staf ahli untuk mengajari puluhan santri. Santri di Darul A'shom tak hanya anak-anak remaja, ada pula yang sudah berumur 28 tahun. Namun, mereka tetap semangat mempelajari kalam ilahi.
"Saat ini orang dewasa dengan gangguan pendengaran hampir tidak mengetahui agama secara mendalam karena sejak usia sekolah mereka tidak pernah mempelajarinya,” kata Ustadz Abu Kahfi, melansir Reuters, Jumat (12/8/2022).
Baca Juga: Jemaah Tuli Terbantu Bahasa Isyarat Khotbah Jumat di Masjid Nabawi
Hanya tiga dari 10 anak penyandang disabilitas di Indonesia yang dapat bersekolah, menurut survei yang dilakukan oleh badan anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF).
Siswa tuli biasanya membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an. “Sekarang saya bisa membaca dan menghafal 30 juz (bagian) Alquran,” kata Muhammad Farhad, seorang siswa berusia 10 tahun.
Farhad mengatakan bahwa dia ingin menjadi seorang ustadz suatu hari nanti agar dia bisa menularkan ilmunya kepada orang lain.
(jqf)