Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 02 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Teman Tuli Juga Berhak Pelajari Al-Quran, Muslimah Ini Temukan Metode Pengajarannya

Muhajirin Jum'at, 03 Desember 2021 - 09:32 WIB
Teman Tuli Juga Berhak Pelajari Al-Quran, Muslimah Ini Temukan Metode Pengajarannya
Riska Duduti temukan metode pengajaran Al-Quran untuk teman tuli (Dok Kemenag)
LANGIT7.ID, Gorontalo - Al-Qur’an adalah firman Allah dengan kandungan makna yang sangat dalam. Hanya saja, tidak semua umat Islam mampu mendengarkan keindahan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. Mereka adalah para penyandang disabilitas tuli. Namun ternyata mereka dapat menikmati bacaan setiap ayat Al-Qur’an melalui orang lain.

Hal tersebut dilakukan Penyuluh Agama Islam (PAI) Kanwil Kemenag Gorontalo, Riska Duduti. Ia merasa terharu saat menyaksikan anak bimbingannya yang memiliki disabilitas tuli di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kabupaten Gorontalo.

Suatu ketika seorang ibu-ibu bercerita kepada Riska perihal anaknya yang tuli. Rumah ibu itu di dekat masjid. Setiap sore, sang anak hanya bisa menyaksikan anak-anak lain berjalan memegang Al-Qur’an untuk belajar mengaji.

“Orang tua itu hanya dapat membatin, ‘Ya Allah, kapan anak saya bisa seperti mereka? Cuma anak saya yang tidak bisa seperti mereka’. Ibu ini bercerita ke saya sambil menangis,” kata Riska, dikutip laman resmi Kemenag, Jum'at (3/12/2021).

Riska pun tergerak untuk mulai memperdengarkan keindahan Al-Qur’an kepada anak-anak tuli. Ia berprinsip, sebagai hamba Allah dan umat Nabi Muhammad memiliki hak sama untuk belajar. Tidak ada perbedaan antara anak tuli dengan anak normal. Semua anak memiliki hak untuk mendapatkan hidup yang layak.

Perjalanan Riska itu sejalan dengan program penyuluh agama Islam untuk memperhatikan dan memberikan bimbingan di SLB. Mereka memberikan tausiah. “Saya melihat ada yang berbeda. Hanya sebatas inikah yang diketahui anak-anak? Padahal, mereka sama dengan kita yang bisa mendengar,” kata Riska.

Baca Juga: Stop Audism, Begini Etika Saat Berinteraksi dengan Kaum Tuli

Riska lalu mengajarkan anak-anak tuli agar bisa membaca Al-Qur’an. Ia berkoordinasi dengan koleganya yang memiliki perhatian sama terhadap penyandang disabilitas. Setelah ada kesepakatan, Riska mulai mensosialisasikan kepada orang tua yang sehari-hari mendampingi anak-anak di SLB.

“Setelah saya tanya ke orang tuanya, banyak anak yang tidak bisa membaca Al-Qur’an. Tunanetra kan ada Qur’an Braille. Ada kamusnya. Mereka bisa cepat belajar dan bisa mengandalkan rekaman. Sementara anak tuli tidak demikian. Para guru pun sulit mengajarkan anak tuli agar bisa membaca Al-Qur’an. Mereka bingung mau mulai dari mana,” ucapnya.

Setelah sosialisasi, Riska lalu mengajarkan bahasa isyarat kepada anak tuli. Ini menjadi tantangan yang harus ditaklukkan Riska agar mereka bisa memperdengarkan keindahan Al-Qur’an kepada anak disabilitas tuli. Ia mengikuti beberapa pelatihan. Dari sana ia menemukan metode pengajaran Al-Qur’an khusus tuli.

“Saya menyimpulkan bahwa anak-anak tuli bisa belajar menggunakan gambar. Gambar Api A (Alif), Balon Ba’, tangan Ta’, Salju Tsa’, Jagung Ja, Hati Ha,” tuturnya.

Dalam mengajar anak-anak tuli membaca Al-Qur’an, Riska juga menggunakan buku panduan bahasa isyarat secara Islami. selain cara membaca huruf hijaiyah dengan bahasa isyarat, di buku panduan yang digunakan secara internasional ini terdapat isyarat untuk membaca surat-surat pendek di juz 30. Ada 14 surat yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat yang disepakati secara internasional.

Langkah untuk memperdengarkan keindahan Al-Qur’an kepada tuli tidak mudah, namun ia tak menyerah. Sejak 2015 mulai beraktivitas banyak rintangan dihadapi. Dua tahun berjalan, banyak permintaan untuk mengajarkan Al-Qur’an bagi tuli secara privat. Namun, dengan berat hati dia menolak.

“Fokus saya mengajar di SLB, karena lebih efektif dan dapat mengajarkan lebih banyak anak,” tutur perempuan alumni IAIN Gorontalo itu.

Buah Perjuangan

Perjuangan Riska tak sia-sia. Ia mulai memanen buah perjuangan pada 2018. Ia berhasil meraih predikat juara dua dalam lomba Penyuluh Teladan Tingkat Nasional. Sebagai juara dua tingkat nasional, dia berhak mendapatkan hadiah senilai Rp18 juta.

Namun, Riska tak menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi. Ia membeli rumah petak yang akan digunakan tempat belajar membaca Al-Qur’an bagi tuli.

Selain mengajarkan membaca Al-Qur’an, Riskan juga mengajarkan berbagai keterampilan untuk anak-anak tuli. Tak lupa, ia juga mengajarkan konsep tauhid dan berbagai disiplin ilmu sesuai dengan pemahaman yang bisa ditangkap anak didiknya.

Riska tak mampu membendung rasa bahagia saat ada orang tua yang memiliki anak tuli datang sambil menangis. Ibu itu memiliki anak bernama Revan. Ibu tersebut sangat bersyukur karena Revan bisa belajar membaca Al-Qur’an.

Tak hanya itu, keluarga Riska memberikan dukungan penuh. Ia menjalani perjuangan mendidik anak-anak tuli dengan sepenuh hati.

“Untuk teman-teman penyuluh, tetaplah bekerja, tetaplah menjadi yang terbaik, teladan untuk semua. Tetap istiqomah menjadi penyuluh dan jangan patah semangat untuk mengajarkan ilmu agama, terutama mengajarkan Al-Qur’an kepada semua orang, siapapun itu. Karena sesungguhnya, kita ini sama-sama makhluk Allah dan umat nabi yang punya hak yang sama untuk belajar agama dan lebih utama lagi belajar Al-Qur’an,” tutur Riska.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 02 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)