LANGIT7.ID, Jakarta - Aktivis tuli sekaligus juru bahasa isyarat, Panji Surya Putra Sahetapy mengajak masyarakat untuk berhenti melanggengkan audism, sebuah pemikiran yang menganggap orang yang dapat mendengar lebih superior dibanding orang tuli. Menyetop audism merupakan salah satu cara menghargai orang-orang tuli.
Surya mencontohkan beberapa sikap audism yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Di antaranya tuli tidak mampu mencapai level orang dengar dalam berintelektual, berbahasa, berkarir, berkemampuan finansial, berkomunikasi dan lain-lain.
Baca Juga: LP Ma'arif PBNU: Indonesia Belum Ramah DisabilitasAudism menganggap bahwa orang tuli yang tidak bisa bicara, tidak berhak menjalani aktivitas selayaknya orang normal sehingga tidak punya masa depan. Audism juga menuntut orang tuli harus bisa mengikuti orang normal dalam berbicara dan menganggap bahasa isyarat membuat orang malas berbicara.
Kemudian, orang tuli yang tidak pakai alat bantu dengar, dianggap tidak akan sukses. Celakanya, semua orang tuli harus dipaksa latihan berbicara supaya pintar dan sukses.
“Tipe orang memiliki sikap diskriminatif seperti ini biasa disebut audist,” kata Surya melalui akun instagramnya, dikutip Kamis (2/12/2021).
Dia menjelaskan alasan munculnya audism di kalangan orang kebanyakan karena sistem pendidikan dan sosial memisahkan tuli dan non disabilitas dalam kehidupan. Kebanyakan orang non tuli baru memahami tuli pada usia dewasa. Apalagi sangat sedikit yang memahami bahasa isyarat.
Surya mencatat dua penyebab. Pertama, tidak ada guru tuli yang mengajarkan bahasa isyarat di sekolah umum. Kedua, tidak ada pertukaran pelajar di antara sekolah tuli dan umum.
“Ini pernah saya usulkan justru dibilang
impossible padahal
power dia lebih tinggi dibanding saya. Yes, ini sudah biasa. Biasanya orang dengar lebih mendengarkan orang dengar dibanding orang tuli. Akhirnya saya ganti strategi dengan menitip pesan pemikiran saya ke orang dengar yang 'Deaf Ally' atau sahabat bagi orang tuli dan titipan melalui 'Deaf Ally' malah mau didengarkan. Lucu ya? Salah ya saya sebagai Tuli? Bukan begitu tapi ya karena audism sudah mendarah daging,” kata Surya.
Etika Ketika Berinteraksi dengan Orang TuliMasyarakat di Indonesia masih banyak yang belum mengetahui cara beretika ketika berinteraksi dengan orang tuli. Orang yang memiliki pendengaran yang baik, tentu akan berkomunikasi dengan bahasa. Sementara orang tuli hanya bisa menangkap objek yang bergerak tanpa bisa mendengar. Mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat.
Baca Juga: Nabi Muhammad SAW, Tokoh Pertama di Dunia yang Perjuangkan Hak Kaum Disabilitas
Maka orang yang bisa mendengar harus mau memahami orang tuli agar bisa terjalin komunikasi dan relasi yang baik. Mengutip laman Indonesiabaik.id, setidaknya ada 6 etika yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan orang tuli. Di antaranya:
1. Perhatikan Ketika berbicara dengan orang tuli (gangguan pendengaran), perhatikan isyarat apakah ia lebih nyaman dengan menggunakan bahasa isyarat, gerak tubuh, tulisan, atau gerakan lisan. Jika mengalami kesulitan, beritahukan kepadanya.
2. Pastikan Dia MemperhatikanSebelum berkomunikasi, perhatikan dia memperhatikan. Jika tidak, lambaikan tangan atau tepuk bahu untuk menarik perhatian.
3. Jaga KesopananJika menggunakan bantuan penerjemah, tetap perhatikan lawan bicara (tuli) demi menjaga kesopanan. Tanyakan kepadanya secara langsung, tidak kepada penerjemah.
4. Berbicara dengan JelasBicaralah yang jelas, supaya lawan bicara dapat membaca gerak bibir. Jangan makan permen karet, merokok, atau menutup mulut dengan tangan ketika berbicara dengan mereka.
5. Jangan BerteriakJangan berteriak, jika orang tersebut menggunakan alat bantu dengar, disesuaikan dengan levelnya, atau gunakan alat bantu tulis.
6. Ulangi KalimatUlangi kalimat dengan ungkapan yang berbeda, daripada mengulangi kalimat yang sama, ketika tidak dimengerti.
(jqf)