LANGIT7.ID-Demo besar-besaran ojek online (ojol) hari ini, Selasa (20/5/2025) mengingatkan masyarakat pada awal keberadaan ojol.
Dahulu, masyarakat tidak mengira bahwa memesan ojek atau transportasi bisa semudah sekarang. Bahkan di awal pendirian, pertentangan muncul di masyarakat. Antara ojol dengan ojek pangkalan.
Kini sejak pendiriannya, ojol memiliki banyak dinamika. Perusahaan ojol dituntut untuk bisa menguntungkan, sedangkan pengemudi atau mitra juga merasa kerap dirugikan.
Untuk mengenang keberadaan ojol di Indonesia, berikut adalah sejarah singkat pendiriannya.
Ide Nadiem Makarim Dikutip Tempo.co, Gojek adalah perusahaan teknologi asal Indonesia yang menjadi pelopor layanan ojek online di Tanah Air. Didirikan oleh Nadiem Makarim pada 13 Oktober 2010, Gojek awalnya beroperasi sebagai layanan pemesanan ojek melalui call center.
Dalam perkembangannya, Gojek kemudian memakai aplikasi. Dari sistem inilah Gojek menjadi pelopor transportasi berbasis aplikasi yang kita kenal sampai hari ini.
Pada awal penggunaan aplikasi, Gojek hanya fokus dengan layanan ojek roda dua saja. Dalam perkembangannya, masuk kendaraan roda empat, dan beragam layanan lain sampai saat ini.
Hingga saat ini, Gojek memiliki 1,3 juta mitra pengemudi, 20,1 juta merchants dengan jangkauan operasi tak hanya di Indonesia, juga di Singapura.
Kehadiran Grab Setelah eksistensi Gojek, muncul pesaing utama yakni Grab. Grab Taxi hadir pada bulan Oktober 2012 di Malaysia.
Dikutip dari grab.com, setahun berselang tepatnya Mei 2014, Grab Taxi hadir di Indonesia dan menjadi salah satu bisnis populer di Indonesia. Di mana, pelanggan hanya perlu mendownload aplikasi untuk mendapatkan layanan tersebut.
Di awal kehadirannya, Grab memberikan tarif yang sangat terjangkau. Karena permintaan yang tinggi, akhirnya Grab mulai membuka perekrutan pengemudi besar-besaran di awal bulan Agustus 2015. Banyaknya calon pengemudi mendaftar menjadi Mitra Grab ini berharap bisa mendapat penghasilan besar seperti pengemudi ojek online lain yang sudah bergabung terlebih dahulu.
Kemudian muncullah aplikasi sejenis, seperti Uber, Maxim, dan sebagainya. Tapi sejauh ini, hanya Gojek dan Grab yang memiliki mitra pengemudi terbesar di Indonesia.(*)
(hbd)