LANGIT7.ID–Surabaya; Menteri Agama Nasaruddin Umar menilai pesantren memiliki potensi besar untuk memimpin penerapan pendekatan ekoteologi dalam pendidikan Islam di Indonesia. Hal itu ia sampaikan saat menjadi narasumber dalam kegiatan Pendidikan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Yayasan Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, Kamis (17/7).
Menurut Menag, ekoteologi adalah pendekatan keagamaan yang peduli pada pelestarian lingkungan hidup. Ia menegaskan bahwa pesantren memiliki kekuatan tersendiri untuk menjadi pelopor dalam pengembangan pendekatan tersebut karena selaras dengan nilai-nilai pendidikan yang telah lama diterapkan di lingkungan pesantren.
“Ekoteologi dan Kurikulum Cinta harus menjadi bagian dari narasi besar pendidikan pesantren. Inilah yang akan menjadikan pesantren sebagai agen perubahan yang mampu menjawab tantangan masa depan dengan nilai-nilai luhur,” ujar dia dalam keterangannya, Jumat (18/7/2025).
Dalam kesempatan yang sama, Menag juga memperkenalkan dua pendekatan baru pendidikan keagamaan yang saat ini tengah dikembangkan oleh Kementerian Agama, yaitu Ekoteologi dan Kurikulum Cinta. Ia menjelaskan bahwa selain ekoteologi, Kurikulum Cinta merupakan pendekatan yang menanamkan nilai-nilai kasih sayang, empati, dan toleransi dalam proses pembelajaran.
“Pesantren punya keistimewaan karena mengajarkan kontemplasi—kemampuan merenung secara mendalam, memahami makna hidup, dan menjawab persoalan dengan hikmah. Ini sesuatu yang langka dalam sistem pendidikan modern,” ujarnya.
Ia menyebut pesantren sebagai ekosistem pendidikan unggul yang mampu memadukan dimensi keilmuan, spiritualitas, dan pengabdian kepada masyarakat. Karena itu, Menag menekankan pentingnya menjaga tradisi pesantren sebagai fondasi dalam mencetak ulama yang tidak hanya alim secara keagamaan, tetapi juga peka terhadap dinamika sosial.
Hadir dalam kegiatan tersebut Rais ‘Aam PBNU K.H. Miftachul Akhyar, Ketua Umum PBNU K.H. Yahya Cholil Staquf, serta para ulama dari berbagai wilayah di Indonesia. Kehadiran Menag di forum PPWK ini menjadi momentum penting dalam mendorong pesantren untuk memainkan peran strategis dalam pengembangan narasi keagamaan yang lebih kontekstual dan ramah lingkungan.
(lam)