LANGIT7.ID-Jakarta; Kementerian Agama terus memperkuat langkah transformasi sumber daya manusia Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) melalui pemanfaatan kerja sama luar negeri. Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama Luar Negeri (HKLN), Imam Syaukani, menegaskan bahwa kerja sama internasional tidak cukup hanya dituangkan dalam nota kesepahaman, melainkan perlu ditindaklanjuti secara konkret untuk memberi dampak nyata bagi kampus.
Pernyataan ini disampaikan dalam Workshop Pemanfaatan Kerja Sama Luar Negeri dalam Rangka Pengembangan SDM Kementerian Agama yang berlangsung di Gedung Rektorat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Rabu (23/7). Kegiatan tersebut menghadirkan para perwakilan PTKN dari berbagai daerah, pejabat eselon I Kemenag, serta unsur pimpinan UIN Jakarta.
“Masih banyak peluang kerja sama luar negeri seperti beasiswa, pelatihan, dan program kelembagaan yang belum digarap optimal oleh PTKN,” ujar Imam dalam keterangannya, Kamis (24/7/2025).
Menurutnya, inisiatif kampus sangat diperlukan untuk membangun program-program berkelanjutan, baik untuk dosen, mahasiswa, maupun tenaga kependidikan. Ia mendorong agar setiap kerja sama dapat memberikan nilai tambah bagi peningkatan mutu institusi pendidikan keagamaan.
Acara ini turut dihadiri oleh Ketua Tim Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Agama, Khoirul Huda Basyir, serta Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Jakarta, Ali Munhanif. Sejumlah narasumber lintas kementerian dan lembaga juga memberikan paparan tentang ragam peluang yang bisa dimanfaatkan oleh PTKN.
Dalam sesi pertama, Ahrul Tsani Fathurrahman dari Kementerian Luar Negeri menyampaikan besarnya potensi kerja sama dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah. Ia menekankan pentingnya komunikasi aktif kampus dengan perwakilan diplomatik di Jakarta.
“MoU antara Kemenag dan Yordania yang diteken April lalu harus dilanjutkan dengan program nyata. Kedutaan besar negara Timur Tengah terbuka untuk kolaborasi yang menguntungkan,” kata Ahrul.
Ia juga menyebutkan pentingnya peran Kedutaan Besar RI (KBRI) dan atase pendidikan dalam mengawal implementasi kerja sama tersebut agar berjalan berkesinambungan.
Sementara itu, narasumber dari Kementerian Sekretariat Negara, Rangga Kurnia Sakti, menjelaskan bahwa berbagai program pelatihan dari luar negeri dapat dimanfaatkan oleh Kemenag, seperti ITEC (India), SCP (Singapura), MTCP (Malaysia), TICA (Thailand), hingga program Split Site Master dari Australia. Ia menyarankan untuk mengakses informasi lengkap melalui situs resmi ktln.setneg.go.id.
Paparan selanjutnya disampaikan oleh perwakilan dari AMINEF dan Fulbright Indonesia, Mita Mardiyah. Ia menjelaskan empat program unggulan Fulbright yang terbuka bagi sivitas akademika PTKN, yaitu Fulbright Scholarship (untuk program MA dan PhD), English Teaching Assistant (ETA), Fulbright Specialist, dan Non-degree Fellowship.
Imam menutup kegiatan dengan ajakan kepada seluruh PTKN agar memperluas jaringan global mereka. Ia menyebut bahwa internasionalisasi SDM bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan strategis.
“Kalau kita ingin punya SDM yang unggul dan kompetitif secara internasional, maka kerja sama luar negeri bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan,” ujar Imam Syaukani dengan tegas.
(lam)