LANGIT7.ID–Jakarta; Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) DKI Jakarta menegaskan bahwa penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan bagian dari dakwah amar makruf nahi mungkar yang dijalankan secara sistematis di seluruh lapisan masyarakat. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Kesehatan PWA DKI Jakarta, Ns. Lily Herlinah, dalam kegiatan edukasi PHBS di Jakarta Barat.
“Ibu-ibu semua adalah merupakan madrasah bagi anak-anak dan bagi lingkungan sekitar kita. Menjaga kesehatan itu harus dimulai dari rumah. Dari perilaku hidup bersih di rumah akan muncul keluarga sehat yang menular ke masyarakat,” ujar dia dalam acara Kajian Kesehatan dalam Keluarga: Menjaga Kesehatan Dimulai dari Rumah bersama Enzim di Aula Panti Asuhan Muhammadiyah Jakarta Berat, Senin (13/10/2025).
Kegiatan edukatif ini turut menggandeng Langit7.id sebagai media partner, yang berperan dalam memperluas publikasi gerakan edukasi kesehatan dan mendukung penyebaran pesan PHBS di lingkungan keluarga.
Lily menjelaskan bahwa Aisyiyah memiliki komitmen untuk memperkuat gerakan kesehatan melalui Gerakan Aisyiyah Sehat (GRASS) yang dilaksanakan secara terpadu dari tingkat pusat hingga ranting. “Yang namanya gerakan itu harus bersama, serentak. Gerakan Aisyiyah Sehat ini bukan hanya untuk warga Muhammadiyah dan Aisyiyah saja, tetapi kepada seluruh lapisan masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya, gerakan tersebut menjadi langkah nyata Aisyiyah dalam mendukung program pemerintah di bidang kesehatan, khususnya dalam pencegahan stunting dan penyakit tidak menular (PTM) di wilayah perkotaan. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan pendataan hibah internal Majelis Kesehatan, Jakarta Barat masih menjadi wilayah dengan kasus stunting tertinggi di DKI Jakarta.
“Masih banyak anak yang mengalami stunting. Dari tiga anak di bawah dua tahun, ada yang menderita stunting. Di Jakarta Barat angka ini masih tinggi,” jelas Lily.
Ia menambahkan, PHBS menjadi fondasi utama dalam mencegah terjadinya stunting, sekaligus mengendalikan peningkatan kasus penyakit tidak menular seperti hipertensi, jantung, dan diabetes.
Lily juga menyoroti kondisi masyarakat urban yang masih menghadapi tantangan sanitasi dan kesenjangan sosial. Ia menggambarkan banyak warga yang tinggal di kawasan padat penduduk dengan akses air bersih terbatas. “Kesenjangan sosial itu sangat terlihat. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Tapi bukan berarti miskin itu penyakitan. Kalau kita berperilaku hidup bersih dan sehat, tidak akan sakit. Miskin boleh, tapi harus sehat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa praktik PHBS tidak hanya mencakup kebiasaan mencuci tangan, tetapi juga perilaku kesehatan yang lebih luas, seperti persalinan oleh tenaga kesehatan, pemberian ASI eksklusif, pemeriksaan posyandu, serta konsumsi buah dan sayur setiap hari. “Kita berupaya menjaga kesehatan dengan cara promotif dan preventif. Jangan sampai BPJS kelas VIP-nya kepakai,” kata Lily.
Selain itu, Lily juga menekankan pentingnya peran kader Aisyiyah untuk melakukan pendampingan berkelanjutan di lingkungan masyarakat. “Kita memastikan bahwa masyarakat, keluarga, dan individu tahu, mau, dan mampu melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat,” ujarnya.
(lam)