LANGIT7.ID–Jakarta; Sejumlah sistem atmosfer aktif sedang memengaruhi kondisi cuaca di Tanah Air. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa pada Selasa, 28 Oktober 2025, terbentuk sirkulasi siklonik di beberapa titik strategis seperti Laut Cina Selatan, perairan selatan Kalimantan Tengah, serta Samudra Pasifik bagian utara Papua Barat Daya.
Fenomena ini bukan hanya sekadar anomali udara, tetapi juga menjadi pemicu utama terbentuknya awan hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut BMKG, keberadaan sistem tekanan rendah tersebut turut menciptakan area perlambatan angin dan pertemuan massa udara di sejumlah lokasi, sehingga memperbesar peluang terjadinya hujan berintensitas sedang hingga lebat di banyak daerah.
Peta Cuaca Nasional: Hujan dan Petir Mewarnai Beberapa Pulau BesarBMKG melaporkan bahwa kondisi cuaca di Indonesia hari ini cenderung dinamis. Di Sumatera, hujan ringan hingga petir masih mendominasi, terutama di Bengkulu, Palembang, dan Pangkalpinang. Sementara Pekanbaru dan Aceh mengalami cuaca berawan.
Pulau Jawa turut merasakan dampak aktivitas atmosfer tersebut. Bandung diprediksi diguyur hujan sedang, sementara Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta mengalami hujan ringan. Di sisi lain, Surabaya dan Serang diingatkan akan potensi hujan disertai petir.
Wilayah timur Indonesia seperti Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian besar kawasan Maluku hingga Papua juga tidak luput dari hujan ringan dan sedang. Mataram dan Denpasar misalnya, masih mencatat potensi hujan ringan, sedangkan Ternate, Sorong, hingga Jayapura menghadapi curah hujan sedang.
Zona Konvergensi dan Konfluensi, Pemicu Utama Cuaca Tak StabilBMKG memaparkan bahwa gangguan cuaca hari ini tidak lepas dari pengaruh sirkulasi siklonik yang memunculkan sejumlah zona konvergensi dan konfluensi di lautan Indonesia.
Area dengan aktivitas pertemuan angin yang kuat di antaranya meliputi Laut Natuna Utara, Laut Jawa, hingga Samudra Pasifik Utara Papua Barat Daya. Selain itu, daerah sekitar Teluk Cenderawasih dan Maluku Utara juga menunjukkan potensi pembentukan awan konvektif yang signifikan.
Daerah tambahan dengan aktivitas konvergensi terpantau di sepanjang Selat Sunda, wilayah Sumatera Selatan, hingga Samudra Hindia selatan Jawa Timur. Sementara konfluensi angin dominan terjadi di Laut Jawa dan Selat Karimata.
Peringatan BMKG: Gelombang 4 Meter dan Ancaman Rob di PesisirSelain hujan dan petir, BMKG juga menyoroti bahaya gelombang tinggi dan potensi banjir rob. Samudra Hindia bagian selatan Jawa diperkirakan mengalami gelombang laut setinggi 2,5 hingga 4 meter.
Kondisi ini bisa berdampak pada wilayah pesisir seperti Denpasar, Kupang, Palangkaraya, dan Banjarmasin. BMKG meminta masyarakat pesisir untuk tetap waspada terhadap ancaman air pasang yang bisa memicu rob, terutama pada saat suhu udara meningkat mencapai 32–35°C.
Daerah yang terdeteksi berisiko banjir rob antara lain Kepulauan Bangka Belitung, pesisir utara Tangerang, Jakarta Utara, pesisir Jawa Tengah, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, serta sebagian wilayah Maluku.
(lam)