LANGIT7.ID, Surabaya - Mahasiswi Muhammadiyah cek depresi lewat urine. Hasilnya penelitian ini bisa menjadi acuan mendiagnosa pasien diduga depresi lewat laboratorium.
Sejauh ini belum ada diagnosa gangguan depresi yang cepat dan tepat dengan menggunakan laboratorium. Namun dari hasil pengecekan urine, ternyata bisa didapati kesimpulannya.
Penelitian ini digagas para mahasiswi dari Universitas Muhammadiyah Malang. Prosesnya dengan meneliti perubahan urine dari orang normal ke pasien gangguan depresi.
Salah satu anggota tim, Uswatun Hasanah mengatakan, proses diagnosa yang ada saat ini masih menggunakan skala dan cluster gejala dari pasien saja. Hal ini memakan waktu lebih lama jika dibanding ketika uji laboratorium.
"Untuk mendeteksi gangguan depresi pada pasien, kami menggunakan biomarker n-methylnicotinamid & hippuric acid," kata Uswatun melansir laman Muhammadiyah Online.
Setelah tiga bulan melakukan penelitian, kata dia, dapat ditarik kesimpulan bahwa kadar biomarker n-methyl & hippuric acid pada pasien gangguan depresi mengalami peningkatan dari pada orang normal.
"Hal ini bisa menjadi acuan untuk mendiagnosis pasien gangguan depresi dengan menggunakan uji laboratorium," ujarnya.
Uswatun menceritakan bahwa penelitian ini sempat terkendala PPKM beberapa waktu lalu. Sebab timnya tidak bisa melakukan penelitian di rumah sakit dan mendapatkan sampel urine pasien gangguan depresi.
"Untungnya, setelah tim kami mencari informasi ke beberapa dokter, akhirnya kami bisa melakukan penelitian dan mendapat sampel urine di Rumah Sakit Muhammadiyah (RSM) Lamongan," ujarnya.
Dalam penelitian ini, dia beserta keempat temannya yaitu Al-Bidarri Tsamira Annafila, Handini Risma Hani, dan Sekar Asih dari Prodi kedokteran serta Nadila Apriola Susanto dari Fakultas Psikologi.
"Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi masyarakat umum, khususnya para psikiater dan psikolog dalam mendiagnosa pasien gangguan depresi," ujarnya.
(bal)