LANGIT7.ID-Manusia lahir dengan modalitas spiritual yang nyaris sempurna. Dalam khazanah Islam, modal ini disebut sebagai fitrah—sebuah kompas internal yang memungkinkan setiap individu mengenali cahaya kebenaran (al-haqq) dan merasakan keganjilan pada kebatilan.
Namun, perjalanan hidup tidak pernah berjalan di atas hamparan karpet merah. Sejarah eksistensi manusia adalah sejarah konfrontasi abadi melawan musuh yang tak kasat mata namun sangat sistematis: setan.
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Jibrin dalam karyanya, Minhajul Muslim Bainal Ilmi wal Amal, mengingatkan bahwa meskipun manusia dibekali kemampuan membedakan yang baik dan buruk, realitas untuk mengamalkan kebenaran jauh lebih kompleks dari sekadar teori.
Ada rintangan yang didesain secara estetis oleh setan untuk membalikkan logika. Kebenaran yang menjanjikan kebahagiaan hakiki digambarkan sebagai jalan yang menakutkan dan menyengsara.
Sebaliknya, kebatilan yang berujung pada penderitaan justru dipoles sedemikian rupa hingga tampak sebagai keindahan yang sangat menggoda.
Diplomasi setan dalam menjerumuskan manusia bukanlah sebuah tindakan impulsif, melainkan sebuah strategi bertahap yang sangat licin. Mengutip analisis mendalam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Madarijus Salikin, terdapat hierarki godaan yang disesuaikan dengan level pertahanan seorang hamba.
Tahapan pertama, dan yang menjadi target utama (master plan) setan, adalah mengajak manusia melakukan kekafiran (kufur) dan kesyirikan (syirik). Inilah titik di mana setan ingin memutus total hubungan hamba dengan Sang Pencipta.
Jika setan berhasil di tahap ini, ia tidak hanya mendapatkan pengikut, tetapi juga merekrut tentara dan abdi baru untuk menyebarkan kesesatan. Namun, setan memiliki fleksibilitas dalam taktik. Jika ia melihat seorang hamba memiliki benteng iman yang kuat dan mustahil untuk diajak berpaling dari tauhid, ia tidak akan menyerah. Ia akan mundur selangkah untuk kemudian menyerang melalui pintu tahapan berikutnya.
Bagi mereka yang terjebak dalam perangkap ini, kebenaran menjadi sesuatu yang asing, sementara penyimpangan menjadi norma baru. Musuh tetaplah musuh, tegas Al-Jibrin. Ia bukan teman, apalagi pembimbing.
Keberhasilan setan sering kali terletak pada kemampuannya menyamar sebagai "pemberi nasihat" yang tulus, persis seperti taktiknya saat memperdaya Nabi Adam di surga dahulu.
Setan memanfaatkan titik-titik lemah dalam emosi manusia: amarah, syahwat, dan kesombongan. Hanya mereka yang memiliki keikhlasan mutlak dalam ibadah yang dapat mencium aroma tipu daya ini sejak awal.
Ikhlas menjadi satu-satunya perisai yang tidak bisa ditembus oleh anak panah setan. Tanpa keikhlasan, manusia hanya akan menjadi pion dalam papan catur iblis yang sangat luas.
Pelajaran penting dari pemikiran Al-Jibrin adalah kewaspadaan. Mengetahui bahwa setan memiliki tahapan-tahapan godaan memungkinkan manusia untuk melakukan pemetaan diri (self-mapping).
Di posisi mana kita saat ini? Apakah kita sedang dirayu untuk mempertanyakan otoritas Tuhan, ataukah kita sedang digiring perlahan menuju kemaksiatan yang tampak sepele? Kesempurnaan fitrah manusia harus terus diasah dengan ilmu agar kompas batin tidak kehilangan arah akibat kabut tipu daya sang musuh abadi.
Satu hal yang pasti, kemenangan setan hanyalah sebuah fatamorgana yang berujung pada penderitaan dunia dan akhirat. Maka, mengidentifikasi setan sebagai musuh nyata (aduwwun mubin) bukan sekadar konsep dogmatis, melainkan sebuah kebutuhan krusial untuk menjaga kewarasan spiritual di tengah badai godaan yang tak pernah reda.
(mif)