LANGIT7.ID- Dunia Islam pada pertengahan abad ke-7 Hijriyah sedang berada dalam guncangan hebat. Di saat tentara Mongol mulai merangsek ke jantung kekhalifahan di Baghdad, sebuah fenomena alam yang dahsyat meletus di tanah Hijaz.
Awadh bin Ali bin Abdullah dalam
Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra menempatkan peristiwa munculnya api raksasa ini sebagai salah satu tanda kecil kiamat yang paling fenomenal karena bukti sejarahnya yang sangat terperinci dan disaksikan oleh ribuan pasang mata.
Rujukan utama fenomena ini adalah nubuat yang disampaikan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melalui lisan Abu Hurairah radhiyallahu anhu dalam teks yang otoritatif:
لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَخْرُجَ نَارٌ مِنْ أَرْضِ الْحِجَازِ تُضِيءُ أَعْنَاقَ الإِبِلِ بِبُصْرَىArtinya,
tidak akan terjadi hari kiamat sampai api keluar dari tanah Hijaz yang menerangi leher-leher unta di Bashra.
Kalimat ini bukan sekadar deskripsi bencana alam, melainkan sebuah koordinat geografis yang sangat presisi. Bashra, sebuah wilayah di Syam (sekarang di wilayah Suriah), berjarak ratusan kilometer dari Madinah. Pendar cahaya yang mampu menyinari leher unta di kejauhan tersebut menunjukkan skala kekuatan api yang luar biasa besar.
Interpretasi Awadh bin Ali membawa kita pada catatan kronik tahun 654 Hijriyah. Para ulama besar yang hidup pada masa itu, seperti Imam an-Nawawi dan Abu Syamah, mencatat dengan detail ledakan vulkanik di dekat kota Madinah. Letusan ini mengeluarkan aliran lava yang sangat besar, menciptakan api yang berkobar selama berminggu-minggu. Saking kuatnya pancaran cahayanya, penduduk di wilayah Bashra benar-benar melihat pantulan cahaya tersebut di langit, seolah-olah fajar menyingsing di tengah malam.
Secara ilmiah, fenomena ini diidentifikasi oleh para geolog modern sebagai letusan gunung api terakhir di Harrat Rahat, sebuah ladang vulkanik di sebelah timur Madinah. Namun, peristiwa ini adalah jembatan antara teks suci dan fakta empiris. Munculnya api ini memberikan efek kejut bagi umat Islam saat itu, yang melihatnya sebagai peringatan keras bahwa kiamat bukan lagi sekadar dongeng masa depan, melainkan sesuatu yang gejalanya sudah mulai muncul ke permukaan bumi.
Penting untuk memberikan catatan kaki interpretatif sebagaimana dilakukan Awadh bin Ali melalui publikasi Maktab Dakwah Rabwah. Api Hijaz yang muncul pada tahun 654 H ini dikategorikan sebagai tanda kecil kiamat. Ia berbeda secara substansial dengan api besar di akhir zaman (al-Asyrath al-Kubra) yang nantinya akan keluar dari dasar jurang Aden di Yaman untuk menghalau dan menghimpun manusia menuju padang mahsyar. Api tahun 654 H adalah "api peringatan", sedangkan api akhir zaman adalah "api penggerak".
Kejadian ini juga mencerminkan betapa akuratnya visi kenabian Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Pada abad ke-7 Masehi, ketika teknologi seismologi belum ada, beliau mampu meramalkan aktivitas tektonik di tanah Hijaz dengan dampak visual hingga ke Syam. Bagi para pembaca tanda zaman, Api Hijaz adalah pengingat bahwa alam semesta memiliki caranya sendiri untuk berbicara tentang akhir sejarah.
Laporan ini menegaskan bahwa tanda-tanda kiamat kecil sering kali berupa peristiwa yang telah lewat namun membekas kuat dalam ingatan kolektif sejarah. Api yang pernah menerangi leher-leher unta di Bashra itu kini telah padam, namun pesannya tetap menyala bagi siapa saja yang merenungkan setiap jengkal perubahan di tanah suci sebagai bagian dari skenario besar Tuhan menuju hari akhir.
(mif)