LANGIT7.ID- Dalam diskursus eskatologi Islam, kiamat tidak selalu diawali dengan dentuman fisik yang menghancurkan, melainkan dengan keroposnya fondasi keyakinan melalui serangkaian ujian yang disebut fitnah.
Awadh bin Ali bin Abdullah dalam bukunya, Mukhtashar Asyraathus Saa’ah al-Shughra wa al-Kubra, membedah fenomena kemunculan beragam fitnah sebagai isyarat kuat bahwa sejarah manusia sedang berjalan menuju titik nadirnya. Fitnah, dalam pengertian plural al-fitan, bukan sekadar tuduhan tanpa bukti, melainkan ujian dahsyat yang mencampuradukkan antara yang haq (benar) dan yang batil.
Laporan yang dipublikasikan oleh Maktab Dakwah Rabwah ini menyitir hadits dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu anhu, sebuah peringatan lisan dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang melampaui zaman:
إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِArtinya, sesungguhnya menjelang datangnya hari kiamat terjadi banyak fitnah, bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita.
Metafora malam gelap menggambarkan kondisi di mana pandangan nurani manusia menjadi buta. Kecepatan perubahan iman dalam fase ini digambarkan sangat ekstrem; seseorang bisa saja beriman di pagi hari, namun ketika senja tiba, ia telah kehilangan cahayanya dan jatuh dalam kekufuran.
Interpretasi Awadh bin Ali menyoroti betapa fitnah ini bersifat eskalatif. Setiap kali satu ujian muncul, seorang mukmin akan merasa itulah puncak kebinasaannya, namun kemudian muncul fitnah lain yang lebih besar hingga ujian sebelumnya terasa ringan. Narasi ini mencerminkan keguncangan psikologis dan spiritual yang melanda masyarakat di ambang kiamat. Seseorang merasa tidak lagi memiliki pijakan yang kokoh karena standar kebenaran telah bergeser dan dimanipulasi.
Sejarah Islam mencatat bahwa benih-benih fitnah ini telah menyemai duka sejak masa lampau. Awadh bin Ali merujuk pada peristiwa-peristiwa besar seperti pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan, Perang Jamal, Shiffin, hingga munculnya kelompok ekstremis Khawarij. Namun, fitnah di akhir zaman diprediksi akan jauh lebih sistemik, termasuk fitnah pemikiran dan gaya hidup yang membebek pada tradisi kaum sebelum Islam.
Respons yang ditawarkan Nabi dalam menghadapi badai ini sangat unik. Beliau menyarankan sebuah perlambatan atau dekelerasi sosial: orang yang duduk lebih baik dari yang berdiri, dan yang berdiri lebih baik dari yang berjalan. Secara interpretatif, ini adalah perintah untuk tidak terlibat aktif dalam kegaduhan yang tidak jelas ujung pangkalnya. Nabi bahkan memerintahkan untuk mematahkan busur dan memukulkan pedang ke batu—sebuah simbol pasifisme total di tengah kekacauan saudara seagama.
Untuk bertahan di tengah labirin fitnah ini, Awadh bin Ali menguraikan beberapa faktor penjaga atau awashim. Kuncinya terletak pada penguatan iman kepada hari akhir, komitmen terhadap jamaah yang tetap berpegang pada sunnah meski jumlahnya sedikit, serta sikap menjauhi sumber fitnah. Sebuah doa perlindungan yang diajarkan Nabi menjadi tameng terakhir bagi setiap individu:
تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَMohonlah perlindungan kepada Allah dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.Kajian ini mengingatkan kita bahwa kiamat kecil dalam rupa fitnah adalah ujian terhadap integritas jiwa. Ketika kebenaran menjadi barang langka dan kebatilan dipoles sedemikian rupa, manusia dipaksa untuk memilih: ikut dalam arus malam yang gelap atau bertahan dengan pelita iman yang sunyi. Fenomena ini tetap menjadi navigasi kritis bagi umat untuk mendeteksi seberapa dekat mereka dengan akhir sejarah di tengah riuhnya fitnah zaman modern.
(mif)