Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 31 Mei 2026
home masjid detail berita

Nama yang Disucikan: Jangan Seret Nama Nabi Yaqub dalam Celaan terhadap Yahudi

miftah yusufpati Selasa, 07 April 2026 - 16:30 WIB
Nama yang Disucikan: Jangan Seret Nama Nabi Yaqub dalam Celaan terhadap Yahudi
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah penjaga marwah sejarah dan akidah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam lembaran sejarah peradaban manusia, bahasa sering kali menjadi medan tempur yang senyap namun menentukan. Salah satu fenomena yang paling mencolok dalam diskursus kontemporer adalah bagaimana kaum muslimin, dari kalangan awam hingga terpelajar, begitu mudah menyebut negeri yang sedang menjajah Palestina dengan nama Israel. Sebutan ini meluncur dalam berita koran, tajuk majalah, hingga orasi politik yang penuh cercaan. Namun, jika kita menelisik kembali otoritas wahyu, sebuah tanya besar muncul: layakkah nama seorang nabi yang suci diseret ke dalam lumpur laknat dan kemurkaan?

Syaikh Prof. Dr. Rabi bin Hadi Al-Madkhali, dalam amatan tajamnya yang terangkum dalam Ain Salsabil Min Ma’ini Imamil Jarhi Wa Ta’dil, memberikan peringatan yang menggetarkan. Beliau menyoroti sebuah makar bahasa yang halus namun merusak. Baginya, menyandarkan segala bentuk keburukan, penjajahan, dan kekafiran kepada nama Israel adalah sebuah kemungkaran yang nyaris tanpa pengingkar. Padahal, Israel bukanlah sekadar entitas geopolitik; ia adalah gelar bagi Nabi Yaqub Alaihissalam.

Al-Quran, sebagai rujukan utama hukum dan sejarah, telah memberikan prototipe yang sangat jelas mengenai bagaimana Allah memperlakukan objek celaan. Jika kita membuka mushaf, kita akan menemukan rentetan ayat yang mencela, melaknat, dan mengabarkan kemurkaan Allah terhadap perilaku sebuah kaum. Namun, satu hal yang sering luput dari perhatian adalah diksi yang digunakan Allah dalam redaksi-redaksi tersebut.

Allah mencela mereka dengan sebutan Al-Yahud atau orang-orang kafir dari kalangan Bani Israil. Allah tidak pernah mengarahkan cercaan-Nya secara langsung kepada nama Israel. Mengapa demikian? Karena Israel adalah personifikasi dari kesalehan. Ia adalah putra dari Nabi Ishaq dan cucu dari Al-Khalilullah Ibrahim. Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Shod ayat 45-47, sosok Yaqub atau Israel adalah hamba pilihan yang memiliki kekuatan besar dalam ketaatan dan ilmu yang tinggi. Beliau disucikan oleh Allah dengan akhlak yang luhur.

Memahami perbedaan ini adalah kunci akidah yang mendasar. Dalam tradisi ulama tafsir seperti Ibnu Katsir, silsilah kenabian ini adalah silsilah cahaya. Menggunakan nama Israel untuk merujuk pada sebuah rezim yang melakukan penindasan di jantung negeri muslim sebenarnya merupakan bentuk ketidaksadaran yang berbahaya. Tanpa disadari, ketika seorang muslim berteriak bahwa Israel telah melakukan pembantaian, ia sedang melekatkan tindakan keji tersebut kepada subjek yang merupakan seorang rasul pilihan.

Makar Zionisme modern justru terletak pada keberhasilan mereka membajak nama suci ini. Dengan menamakan negeri mereka sebagai Israel, mereka seolah ingin memaksakan pengakuan dunia bahwa mereka adalah representasi sah dari garis kenabian tersebut. Ironisnya, kaum muslimin justru terjebak dalam perangkap semantik ini. Mereka menggunakan istilah tersebut dalam konteks mencela, namun secara teknis tetap mengakui legitimasi nama itu sebagai identitas sang penjajah.

Syaikh Rabi menegaskan bahwa hal yang benar menurut syariat adalah memisahkan antara kemuliaan Nabi Yaqub dan keburukan kaum Yahudi. Celaan Allah terhadap mereka didasarkan pada pembangkangan mereka terhadap hukum Tuhan, pembunuhan mereka terhadap para nabi, dan pengkhianatan mereka terhadap perjanjian. Namun, semua narasi negatif itu tidak pernah dikaitkan dengan esensi nama Israel sebagai sosok pribadi nabi.

Interpretasi ini membawa kita pada sebuah simpulan mendesak: perlunya purifikasi istilah di ruang publik muslim. Menggunakan sebutan Yahudi atau Zionis jauh lebih tepat secara historis dan selamat secara teologis. Yahudi merujuk pada kelompok etnoreligius yang memiliki rekam jejak hubungan dengan Islam, sementara Zionis merujuk pada gerakan politik kolonial. Dengan menghindari penyebutan nama Israel untuk hal-hal yang negatif, seorang muslim sedang menjaga muruah dan kesucian nama nabi dari penistaan bahasa.

Sudah saatnya media massa dan para terpelajar muslim meninjau kembali diksi mereka. Bahasa bukan sekadar alat komunikasi, ia adalah penjaga marwah sejarah dan akidah. Menghormati Nabi Yaqub berarti tidak membiarkan gelarnya diseret-seret dalam berita kekerasan dan kemaksiatan. Jika Allah saja memisahkan antara kemuliaan sang nabi dan celaan bagi kaum yang membangkang, lantas atas dasar apa manusia berani mencampuradukkannya?

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 31 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)