LANGIT7.ID-Jakarta; Kesenjangan sistem ekonomi syariah pada level mikro di Mindanao, Filipina, menjadi fokus utama program pengabdian masyarakat internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Meski perbankan syariah sudah eksis melalui Amanah Islamic Bank sejak 1973, sektor koperasi di wilayah tersebut justru belum tersentuh skema syariah selama lebih dari 50 tahun.
Guna mengatasi kekosongan tersebut, tim pengabdian UMY meluncurkan One Day Workshop on Developing Islamic Scheme for Micro Finance di Mindanao State University–Iligan Institute of Technology (MSU-IIT) pada Selasa (31/3). Inisiatif ini bertujuan menciptakan ekosistem keuangan yang lebih inklusif bagi sekitar 5 juta penduduk Muslim di Mindanao yang selama ini belum memiliki akses ke koperasi berbasis prinsip Islam.
Ketua Tim Pengabdian UMY, Prof. Rizal Yaya, S.E., M.Sc., Ph.D., Ak., CA., CRP., menyebutkan bahwa ketiadaan model syariah yang mapan di akar rumput menjadi urgensi utama.
"Ada kebutuhan mendesak bagi komunitas Muslim di sini untuk memiliki lembaga keuangan mikro yang inklusif sekaligus patuh syariah. Selama ini, institusi perbankan memang sudah ada, tetapi pada level koperasi yang menyentuh akar rumput justru belum tersedia model syariah yang mapan," ungkap Rizal dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (8/4/2026).
Langkah konkret yang diambil UMY adalah melakukan transfer model Baitul Maal wat Tamwil (BMT) yang selama ini telah sukses diterapkan di Indonesia, khususnya praktik pengelolaan BMT UMY periode 2021–2026. Model ini dipilih karena keunggulannya dalam pendekatan kemitraan yang adil, integrasi nilai ekonomi-sosial, serta fleksibilitasnya untuk diterapkan pada organisasi komunitas.
Dalam pelaksanaannya, UMY berkolaborasi dengan mitra lokal seperti Mr. Jalani M. Ramos dari Amanah Islamic Bank dan pakar hukum syariah Filipina, Dr. Leonilo Go Paulin. Kerja sama ini bertujuan memastikan adaptasi model BMT tetap sejalan dengan regulasi di Filipina.
Rizal menjelaskan bahwa workshop tersebut membekali peserta dengan lima modul utama, mulai dari pemahaman akad hingga penyusunan roadmap.
"Workshop ini mencakup lima modul utama, mulai dari pemahaman akad hingga penyusunan roadmap implementasi. Tujuannya adalah mengubah posisi masyarakat dari sekadar pengguna layanan perbankan menjadi pengelola mandiri ekonomi umat melalui koperasi syariah," tegasnya.
Program ini telah menghasilkan draf produk keuangan dengan akad murabahah dan musharakah. Dokumen ini direncanakan menjadi landasan resmi bagi pendirian koperasi syariah pertama di lingkungan MSU-IIT National Multi-Purpose Cooperative. Inisiatif strategis ini sekaligus memperkuat posisi UMY sebagai motor penggerak ekonomi Islam di kawasan Asia Tenggara.
