LANGIT7.ID-Jakarta; Lembaga kredit ekspor Inggris, UK Export Finance (UKEF), telah mengamankan pembiayaan penjaminan pinjaman senilai £128 juta (sekitar Rp2,56 triliun) untuk mendukung ekspor sistem kendaraan penyelamat kapal selam (SRVS) buatan Inggris ke TNI Angkatan Laut (TNI AL).
Dukungan pembiayaan ini diberikan kepada dua perusahaan: Submarine Manufacturing and Products Limited (SMP) yang berbasis di Bristol, serta Forum Energy Technologies Ltd (FET) yang berkantor pusat di York.
Dalam perjanjian tersebut, kontrak SMP didukung oleh penjaminan pinjaman dari UKEF senilai £76 juta (sekitar Rp1,52 triliun), dengan pembiayaan yang disediakan oleh JP Morgan Chase, Cabang Singapura. Bekerja sama dengan mitra Indonesianya, PT BTI Indo Tekno (BTI Defence), perusahaan ini akan memasok TNI AL dengan kendaraan penyelamat (SRV) berkapasitas 50 orang yang dapat dioperasikan baik melalui jalur udara maupun laut, beserta kapal induknya. Proyek ini juga menandai pertama kalinya UKEF bekerja sama dengan SMP dan BTI.
Sementara itu, kesepakatan FET didukung oleh penjaminan pinjaman UKEF senilai £52 juta (sekitar Rp1,04 triliun), dengan pembiayaan yang diatur melalui Banco Santander. Bekerja sama dengan mitra Indonesia, PT Agrapana Nugraha Katara (ANK), FET akan menyediakan sistem penyelamatan kapal selam dengan kedalaman 610 meter untuk TNI AL.
UKEF menyatakan bahwa kontrak SMP akan memberikan kontribusi lebih dari £39 juta (sekitar Rp780 miliar) ke rantai pasok Inggris, dan nilai kesepakatan FET sekitar £30 juta (sekitar Rp600 miliar). Dengan demikian, total manfaat langsung bagi perekonomian Inggris mencapai lebih dari £67 juta (sekitar Rp1,34 triliun).
Catatan Naval NewsMeskipun UKEF baru saja mengumumkan pembiayaan yang dijamin penjaminan pinjaman senilai £128 juta (Rp2,56 triliun), kontrak yang mendasarinya sebenarnya tidak sepenuhnya baru.
Pada September 2023, SMP mengumumkan kontrak untuk memasok TNI AL dengan SRV-F Mk 3 SRV mereka beserta kapal induk sepanjang 92,5 meter yang akan dilengkapi dengan sistem pemindahan dalam tekanan (TUP) canggih dan ruang dekompresi khusus. Saat itu, perusahaan menyatakan bahwa proyek ini akan berjalan di bawah kontrak pembangunan selama tiga tahun yang mencakup desain dan produksi.
Pada Juni 2025, Naval News melaporkan bahwa FET telah mendapatkan kontrak dari Indonesia untuk SRV LR600 mereka, termasuk sistem peluncuran dan pemulihan, serta sistem dekompresi. SRV ini akan mampu membawa 20 orang dan akan terintegrasi dengan fasilitas penyelamatan hiperbarik.
Kontrak-kontrak ini merupakan bagian dari upaya Indonesia untuk memperkuat operasi kapal selam, terutama setelah tenggelamnya KRI Nanggala (402) secara tragis pada April 2021. Peristiwa itu membuka mata akan celah serius dalam kemampuan bawah air Indonesia, karena negara ini tidak memiliki sistem penyelamatan kapal selam sendiri. Upaya ini menjadi semakin penting seiring rencana Indonesia untuk memperluas armada kapal selamnya, termasuk melalui pembangunan dua kapal selam Scorpène Evolved secara domestik dan ketertarikan yang dilaporkan terhadap kapal selam ringkas dari DRASS asal Italia(*/saf/navalnews)
(lam)