LANGIT7.ID, Jakarta,- - Sejumlah sektor merasakan imbas ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat-Israel, dan Iran. Salah satunya adalah
industri plastik yang mengalami kenaikan harga akibat terganggunya distribusi minyak dan bahan baku petrokimia.
Kenaikan harga plastik berdampak pada meningkatnya biaya produksi berbagai kemasan berbasis plastik. Namun,
pakar lingkungan melihat situasi ini sebagai peluang untuk mendorong transisi menuju penggunaan material yang lebih
ramah lingkungan. Baca juga: Menkes Imbau Warga Pakai Masker, Waspadai Paparan Mikroplastik dari Air HujanDosen Teknik Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST)
Universitas Airlangga, Rizkiy Amaliyah Barakwan, menilai bahwa pergeseran ini dapat memberikan dampak positif dari sisi lingkungan.
Menurut Rizkiy, penggunaan wadah ramah lingkungan dengan sifat biodegradabel mampu terurai dalam waktu singkat sehingga dapat mengurangi pencemaran.
“Wadah yang ramah lingkungan memiliki biodegradabilitas tinggi, dapat terdekomposisi dalam hitungan minggu, sehingga mengurangi pencemaran lingkungan. Penggunaan ini lebih baik karena meninggalkan jejak karbon lebih rendah dan mendukung ekonomi sirkular, seperti petani daun pisang serta produsen kertas daur ulang,” terang Rizkiy seperti dilansir dari laman Unair, Ahad (12/4/2026).
Rizkiy menambahkan bahwa kondisi kenaikan harga plastik ini dapat menjadi titik awal perubahan sistem yang lebih luas apabila dikelola dengan baik.
Salah satu dampak positif yang mulai terlihat adalah meningkatnya kesadaran masyarakat, termasuk pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), yang mulai beralih ke kemasan ramah lingkungan dan ramai dibagikan di media sosial.
Menurutnya, perubahan perilaku konsumen juga menjadi faktor penting dalam mendorong keberlanjutan. Ketika pasar mulai menerima penggunaan kemasan non-plastik, maka inovasi bahan lokal berpotensi berkembang lebih pesat dibandingkan ketergantungan pada material impor berbasis fosil.
Baca juga: Eco-Qurban dari BCA Syariah: Kurban Ramah Lingkungan Tanpa Plastik Sekali Pakai“Keberlanjutan tidak hanya digerakkan oleh regulasi, tetapi juga oleh permintaan pasar. Lonjakan harga plastik justru membuka peluang keluar dari ketergantungan struktural terhadap material berbasis fosil,” jelasnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa perubahan tersebut tidak otomatis membawa dampak positif tanpa adanya dukungan sistem yang memadai.
Edukasi mengenai higienitas, keamanan pangan, serta kebijakan pemerintah dinilai penting agar transisi ke kemasan ramah lingkungan dapat berjalan optimal, termasuk pemberian insentif bagi UMKM.
Arah Keberlanjutan dan Peran MasyarakatLebih lanjut, Rizkiy menyebut bahwa fenomena ini juga berkaitan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 8, 11, 12, 14, dan 15. Namun, keberhasilan implementasinya sangat bergantung pada edukasi konsumen dan pelaku usaha dalam pengelolaan limbah yang benar.
Ia menekankan pentingnya inovasi sistem pengolahan agar bahan biodegradable benar-benar dapat terurai sesuai fungsinya, serta penerapan pendekatan life cycle thinking untuk memastikan solusi lingkungan tidak menimbulkan masalah baru.
Baca juga: Lontong Dibungkus Plastik Sebabkan Berbagai Masalah Kesehatan Serius“Masyarakat sebaiknya mengurangi penggunaan plastik, menggunakan kembali, dan beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan. Pelaku usaha juga bisa menerapkan sistem tanpa kemasan, memberikan diskon bagi konsumen yang membawa wadah sendiri, serta menggunakan sistem isi ulang,” pungkasnya.
(est)