LANGIT7.ID-, - Eskalasi
konflik militer antara blok
Amerika Serikat-Israel melawan
Iran telah memicu guncangan hebat di pasar energi global.
Harga minyak mentah dunia tercatat naik selama tiga hari berturut-turut hingga Selasa pagi, menyusul ancaman serius terhadap jalur distribusi vital di
Selat Hormuz yang meningkatkan kekhawatiran stabilitas pasokan energi dunia.
Pada perdagangan Selasa pukul 07.00 waktu Saudi,
harga minyak mentah Brent melonjak menjadi $79,44 per barel atau naik 2,2 persen.
Baca juga: Ribuan Warga Amerika Terperangkap di Iran, Khawatir Jadi Sandera di Tengah Perang yang Makin MemanasSehari sebelumnya, kontrak ini bahkan sempat menyentuh level $82,37, angka tertinggi sejak Januari 2025.
Kondisi serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS yang terkerek 1,6 persem ke posisi $72,40 per barel. Lonjakan ini merupakan kelanjutan dari reli perdagangan sesi sebelumnya yang ditutup menguat signifikan di atas 6 persen.
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada Selat Hormuz, jalur perairan yang menjadi lintasan bagi sekitar 20 persen pasokan
minyak dan gas dunia.
Media lokal Iran melaporkan pernyataan pejabat senior Garda Revolusi yang menegaskan bahwa jalur tersebut kini tertutup. Ancaman tindakan militer terhadap kapal yang nekat melintas telah membuat perusahaan asuransi mencabut pertanggungan mereka.
“Tanpa tanda-tanda de-eskalasi cepat, risiko kenaikan harga tetap ada dan akan meningkat semakin lama konflik berlanjut," ungkap Tony Sycamore, analis pasar dalam sebuah catatan seperti dikutip dari Arab News, Selasa (3/3/2026).
Baca juga: Ketua Federasi Sepak Bola Iran Ragukan Ikut Partisipasi Piala Dunia di AmerikaKekhawatiran pasar tidak hanya terbatas pada gangguan logistik. Analis dari ING memperingatkan risiko yang lebih besar jika Iran mulai menargetkan infrastruktur energi di negara-negara Teluk secara sistematis.
Hal ini terbukti dengan langkah Arab Saudi yang terpaksa menutup kilang domestik terbesarnya pasca serangan drone pada Senin lalu.
“Pasar terus mencerna risiko eskalasi di Timur Tengah,” kata analis ING dalam catatan hari Selasa.
“Meskipun ada kekhawatiran tentang aliran minyak melalui Selat Hormuz, risiko yang lebih besar bagi pasar adalah jika Iran menargetkan infrastruktur energi tambahan di wilayah tersebut. Ini dapat menyebabkan pemadaman yang lebih lama.”
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa perang AS dan Israel melawan Iran tidak akan memakan waktu tahunan. Namun para analis tetap bersikap waspada.
Lembaga riset Bernstein telah merevisi asumsi harga minyak Brent tahun 2026 dari $65 menjadi $80 per barel.
Baca juga: 10 Juta Warga India Terjebak di Asia Barat, Gara Gara Perang Iran vs Amerika-Israel, Rencana Evakuasi Belum SiapBernstein memprediksi harga minyak dunia bisa mencapai $120-$150 jika konflik berkepanjangan dan infrastruktur energi mengalami kerusakan permanen.
Situasi ini menempatkan ekonomi global dalam bayang-bayang inflasi energi yang tinggi di masa mendatang.
(est)