LANGIT7.ID-Jakarta; Mobilitas jamaah haji Indonesia selama di Makkah ditopang layanan bus salawat yang beroperasi penuh sepanjang hari. Fasilitas ini menghubungkan hotel dengan Masjidil Haram dan kembali lagi tanpa biaya, sehingga menjadi sarana utama pergerakan jamaah selama masa ibadah.
Pengoperasian layanan dilakukan sejak kedatangan kloter pertama hingga 6 Zulhijjah menjelang Armuzna, lalu kembali dilanjutkan mulai 14 Zulhijjah sampai seluruh jamaah pulang ke Tanah Air. Pada masa puncak, sebanyak 452 unit bus disiagakan, seluruhnya berusia maksimal lima tahun. Frekuensi perjalanan meningkat pada waktu menjelang dan setelah salat fardu, dengan waktu tunggu rata-rata 15–20 menit.
Distribusi armada mencakup lima wilayah utama, yakni Misfalah, Jarwal, Raudhah, Syisyah, dan Aziziyah. Setiap kawasan terhubung dengan terminal keberangkatan menuju Masjidil Haram, yaitu Misfalah melalui Terminal Ajyad, Jarwal dan Aziziyah melalui Terminal Jabal Ka’bah, serta Syisyah dan Raudhah melalui Terminal Syib Amir.
Kepala Bidang Transportasi Daerah Kerja Makkah, Syarif Rahman, menjelaskan bahwa layanan ini disiapkan mengikuti ketentuan otoritas Arab Saudi, sekaligus diperluas oleh pemerintah Indonesia agar menjangkau seluruh jamaah. “Secara aturan, jamaah yang tinggal dengan jarak minimal 2.000 meter wajib diberikan transportasi. Tapi Indonesia memberikan layanan untuk seluruh jamaah, tanpa melihat jarak,” ujar Syarif, dilansir dari situs MUI, Selasa (28/4/2026).
Untuk memudahkan penggunaan, setiap bus dilengkapi penanda rute berupa stiker warna dan nomor. Terdapat 21 jalur berbeda dan jamaah menerima kartu rute saat tiba di hotel. “Cukup lihat warna dan nomor kartu rute, jamaah tidak perlu lagi bertanya. Biasanya dalam dua-tiga hari sudah hafal,” kata Syarif.
Layanan ini ditangani enam perusahaan (syarikat) dengan armada bus kota yang ditempatkan di terminal serta kantong parkir dekat hotel. Pengaturan dilakukan secara real time oleh petugas di lapangan untuk memastikan ketersediaan armada di setiap titik. “Kalau ada kekurangan armada di satu titik, langsung kami dorong dari terminal. Jadi jamaah tidak menunggu lama,” ujarnya.
Sebagai bagian dari layanan ramah lansia, disabilitas, dan perempuan, disiapkan sekitar 52 unit bus berlantai rendah yang memudahkan pengguna kursi roda. Namun, operasionalnya bersifat berbasis permintaan karena kapasitas terbatas, maksimal 18 penumpang. “Kalau dipaksakan beroperasi reguler, justru tidak efektif. Jadi kami kirim sesuai kebutuhan di lapangan,” jelasnya.
Syarif juga menegaskan bahwa seluruh layanan transportasi ini tidak dipungut biaya. Jamaah diimbau tidak memberikan tip kepada pengemudi. “Kami imbau jamaah dan keluarga di tanah air, tidak perlu memberi tip. Sopir sudah dibayar oleh perusahaan, dan ini bagian dari layanan resmi,” tegasnya.
Dengan pengaturan lalu lintas yang lebih ketat oleh otoritas Arab Saudi tahun ini, ia menilai mobilitas jamaah akan lebih tertata. “Insya Allah tahun ini lebih terkendali sampai puncak haji,” kata dia.
(lam)