LANGIT7.ID-Jakarta; Pemerintah Indonesia bersiap mendistribusikan sekitar 280 juta bibit kakao dan kelapa dengan produktivitas tinggi, dalam sebuah dorongan besar untuk merevitalisasi sektor perkebunan nasional dan meningkatkan ekonomi pedesaan.
Inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan sektor pertanian dan perkebunan sebagai pilar utama pembangunan ekonomi Indonesia ke depan, menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Peluncuran bibit ini terkait dengan program pembangunan jangka menengah yang ambisius dan berlangsung dari tahun 2025 hingga 2027, demikian pernyataannya pada Senin (8 Juni).
Didukung oleh alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp9,5 triliun, Kementerian Pertanian menargetkan pengembangan lahan perkebunan rakyat seluas 870.000 hektare di seluruh Nusantara.
Selain fokus saat ini pada kakao dan kelapa, inisiatif utama ini juga menyasar komoditas strategis lainnya seperti tebu, kopi, pala, jambu mete, dan kemiri.
Menteri Amran mengumumkan angka-angka tersebut setelah inspeksi mendadak akhir pekan lalu ke sebuah pembibitan lokal di Desa Lamomea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.
Terkesan dengan kualitas hasil perkebunan setempat selama kunjungannya, Amran mendorong daerah lain untuk mencontoh.
"Ini adalah contoh bibit kelapa yang bagus. Ini harus ditiru di seluruh Indonesia," ujar dia dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).
Untuk wilayah Sulawesi Tenggara, pemerintah telah menyiapkan sekitar 38 juta bibit sebagai bagian dari program pengembangan perkebunan nasional, yang diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani setempat.
Amran menegaskan bahwa semua bantuan diberikan secara gratis kepada petani, mulai dari penyediaan bibit unggul, persiapan lahan, hingga proses penanaman.
Ia menyatakan bahwa kebijakan ini menunjukkan dukungan pemerintah kepada petani, sehingga mereka dapat meningkatkan produksi tanpa terbebani biaya awal yang selama ini sering menjadi penghambat pengembangan usaha.
Dorongan di sektor perkebunan dan program hilirisasi ini diperkirakan akan menciptakan setidaknya tiga juta lapangan kerja permanen selama tiga tahun ke depan, tambahnya.
"Apa artinya ini? Kami membuka lahan, dan tenaga kerja akan terus bekerja di sana hingga 30 tahun karena tanaman ini, insya Allah, sangat produktif," pungkas Amran.(*/saf/ant)
(lam)