Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home lifestyle muslim detail berita

ADAPTASI untuk Atasi Kecemasan Orang Tua dan Anak saat PTM Berlangsung

muhammad rifai akif Rabu, 20 Oktober 2021 - 16:47 WIB
ADAPTASI untuk Atasi Kecemasan Orang Tua dan Anak saat PTM Berlangsung
Komunikasi dua arah antara orang tua dan anak akan lebih baik apabila diciptakan. Foto : LANGIT7/iStock
LANGIT7.ID - , Jakarta - Belum lama ini sebagian sekolah di beberapa kota besar sudah memberlakukan pembelajaran tatap muka. Meski hal ini dilakukan di saat kasus COVID-19 menurun, namun tak menghilangkan kecemasan orang tua mengantar anak-anaknya untuk PTM.

Untuk mengatasi kecemasan tersebut, Psikolog Anak, Self-Growth dan Parenting Coach, Irma Gustiana Andriani, menyarankan orang tua untuk melakukan langkah "ADAPTASI" selama proses PTM berlangsung.

“ADAPTASI” sendiri merupakan akronim dari amati, dengarkan, alihkan, pahami, tanyakan, apresiasi, sentuhan, dan ingatkan diri.

“Kecemasan itu bisa muncul karena beberapa hal, misalnya terlalu banyak informasi yang dikonsumsi, atau sebaliknya informasi yang dimiliki sedikit, atau memang punya riwayat kecemasan,” kata Irma saat webinar dikutip pada Rabu.

Hal pertama yang perlu dilakukan orang tua adalah amati sejauh mana kesiapan anak, mulai dari segi fisik hingga mentalnya.

Baca juga : DPR: Pelaksanaan PTM Tidak Mudah, Tenaga Pendidik Harus Patuh Prokes

“Selain itu, amati apakah dia sudah mengerti literasi protokol kesehatan tentang 5M. Kalau misalnya belum bisa dan belum mahir, berarti orang tua ada tanggung jawab untuk memberikan stimulasi atau latihan-latihan berkelanjutan setiap hari. Dan itu semua bisa dilakukan dengan role play atau ajak anak bermain peran,” ujar Irma.

Selanjutnya, dengarkan kebutuhan dan keinginan anak. Irma mengatakan komunikasi dua arah antara orang tua dan anak akan lebih baik apabila diciptakan daripada hanya menuntut anak dengan keinginan orang tua saja.

Selama proses PTM, orang tua juga perlu mengalihkan anak agar tidak terus-terusan berhadapan dengan gadget dengan tetap melakukan aktivitas fisik.

“Fisiknya harus tetap dimaksimalkan. Apalagi yang anaknya masih kecil, aktivitas secara motorik dasar itu harus tetap didapatkan supaya bisa menyeimbangkan kemampuan-kemampuan dia yang lain,” katanya.

Kemudian, pahami situasi dan kondisi anak di saat pandemi agar orang tua dapat lebih realistis terhadap keadaan dengan tidak memaksakan beragam ekspektasi.

“Misalnya, anak-anak yang tadinya sebelum pandemi dan bisa belajar offline nilainya bagus-bagus dan selalu gembira. Lalu sekarang, dia sesekali murung dan belajarnya jadi acak-acakan. Orang tua harus memahami situasi tersebut. Jangan memberikan tekanan yang besar. Memahami ini bisa kita lakukan dengan bertanya kepada anak,” terang Irma.

Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan sederhana yang berkaitan dengan perasaan sang anak perlu ditanyakan. Sebagai contoh, tanyakan bagaimana perasaan anak saat kembali ke sekolah, bagaimana perasaan anak saat bertemu dengan teman-temannya, kemudian tanyakan pula adakah yang bisa orang tua bantu.

Tak berhenti sampai di situ, orang tua juga perlu menyampaikan apresiasi atas segala usaha yang telah anak lakukan. Irma mengatakan anak tentu mengalami ketidaknyamanan selama bersekolah saat pandemi, namun pada satu sisi anak juga harus berjuang melewati sehingga dalam perjalanannya dapat muncul konflik-konflik dalam diri sang anak.

“Apresiasi bisa dilakukan salah satunya dengan memberikan sentuhan. Sentuhan bisa mengaktivasi hormon bahagia anak. Bisa usap rambutnya, peluk badannya, itu sebetulnya yang anak-anak inginkan,” katanya.

Baca juga : Adelia Pasha Setuju PTM Diberlakukan dengan Prokes Ketat

Terakhir, Irma menekankan orang tua harus selalu ingatkan pada diri sendiri bahwa saat ini sedang diamanatkan untuk menjadi pendamping anak dalam proses pembelajaran, termasuk pembelajaran digital yang tergolong baru.

“Tidak ada yang bilang ini mudah. Ini sesuatu yang baru bagi kita. Tapi mudah-mudahan setelah satu setengah tahun pandemi, kita mulai terbiasa bagaimana caranya bantu mereka untuk sama-sama menjalani situasi dengan bahagia, sehingga ketika pandemi berakhir yang dia ingat adalah ingatan-ingatan positif tentang bagaimana orang tuanya mendampingi dia,” pungkasnya.

Sumber: Antaranews

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)