JAKARTA -
LANGIT7.ID- Kelemahan bisnis Bank Syariah Indonesia atau BSI dan Muhammadiyah dikuliti dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah di TVMU, Jumat (26/6/2026). Kedua institusi ini disorot tajam karena dinilai gagal menguasai ekosistem perputaran uang.
Kritik tersebut disampaikan oleh ahli ekonomi syariah sekaligus Wakil Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia (BSI), Adiwarman Azwar Karim, dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah bertemakan "Resiliensi Keuangan: Mencari Model Penguatan Ekonomi Ormas" pada Jumat, 26 Juni 2026.
Dalam acara yang disiarkan langsung melalui TV Muhammadiyah (TVMU) itu, ia menyoroti kegagalan kedua institusi dalam menguasai ekosistem perputaran uang.
Adiwarman menjabarkan kelemahan BSI yang dinilainya kalah lincah dari bank konvensional dalam menahan dana nasabah pada akhir pekan.
Menurutnya, BSI telah mengerahkan segala upaya teknologi dan dalil syariah untuk menarik minat tabungan masyarakat, tetapi uang tersebut segera mengalir keluar dalam jumlah besar saat akhir pekan tiba.
"Tiap Sabtu dan tiap Minggu, uangnya keluar dalam jumlah yang besar karena mereka belanja di mana-mana. Dan ketika belanja, pembayarannya pergi ke bank lain yang konvensional seperti BCA, Mandiri, BRI, BNI, atau Bank Nobu karena ada OVO. Kita hanya bagian mengumpulkan yang kecil-kecil, sedikit-sedikit, menabung. Namun setiap akhir pekan, uangnya keluar karena kita tidak mengikuti perputaran uangnya," ungkap Anggota Dewan Syariah Nasional MUI tersebut.
Selain menyentil BSI, Adiwarman juga menguliti strategi bisnis Muhammadiyah yang dinilainya masih gamang dan terjebak pada pola lama. Ia membandingkan Muhammadiyah dengan para konglomerat yang selalu hadir menawarkan produk di setiap siklus kehidupan manusia, mulai dari popok bayi, susu, kertas sekolah, hingga kebutuhan masa tua.
Menurutnya, Muhammadiyah yang kini berusia 114 tahun memiliki potensi pasar yang luar biasa besar melalui jaringan sekolah, universitas, dan rumah sakitnya. Sayangnya, potensi raksasa tersebut tidak dioptimalkan melalui sistem satu pintu.
Ia menyayangkan sikap setiap unit usaha Muhammadiyah yang masih berjalan sendiri-sendiri, seperti rumah sakit atau sekolah yang melakukan negosiasi pengadaan obat dan kertas secara eceran ke pihak luar.
"Kekuatan ekonomi yang besar ini kadang-kadang gamang karena ilmunya sudah jelas, pokoknya kita kembangkan pendidikan dan sosial. Yang lain coba-coba membuat warung, membuat air mineral, atau membuat bank, pusing sedikit tidak jadi pemimpin pasar. Kalau cuma mendampingi UMKM sini dan sana, baguslah, tetapi kurang menantang, kurang asyik mainnya begitu," tuturnya.
Strategi Tiga FaseSebagai solusi, Adiwarman menawarkan strategi tiga fase yang biasa diterapkan oleh para konglomerat, yaitu identifikasi-akuisisi, solusi terintegrasi, dan transaksi lingkar tertutup (closed loop transaction).
Ia menekankan pentingnya Muhammadiyah mengambil peran sebagai pembeli besar atau distributor utama, bukan langsung mendirikan pabrik.
Ia mencontohkan pengalamannya saat menjadi penasihat Unilever yang sempat ingin mempertemukan korporasi tersebut dengan Muhammadiyah agar ormas ini menjadi distributor utamanya. Dengan menangkap pasar dan menjadi distributor tunggal, Muhammadiyah dinilai akan memiliki posisi tawar yang sangat kuat di hadapan produsen, meniru keberhasilan jaringan ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart.
"Mengapa BCA itu bisa kuat? Karena uangnya itu berputar dari BCA dan kembali lagi ke BCA. Yang belanja menggunakan kartu BCA, yang jualan menggunakan BCA juga. Ini yang kita cari, fase ketiga, transaksi lingkar tertutup supaya transaksinya terjadi dalam ekosistem sendiri dan uangnya berputar-putar di kita saja," pungkas Adiwarman.
(mif)