LANGIT7.ID-Banyumas; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meresmikan penataan dan pembenahan aset budaya Rumah Sastra dan Perpustakaan Ahmad Tohari sebagai komitmen pemerintah dalam menjaga warisan sastra Indonesia sekaligus memperkuat ekosistem literasi dan ruang budaya bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa meskipun Kementerian Kebudayaan merupakan kementerian yang baru dan tengah menghadapi kebijakan efisiensi anggaran, pemerintah tetap berkomitmen menghadirkan program-program yang berdampak nyata bagi pemajuan kebudayaan, termasuk revitalisasi aset budaya.
“Meskipun kita sedang melakukan efisiensi, kita bisa melakukan revitalisasi di sekitar 159 aset budaya, baik situs cagar budaya maupun yang merupakan kantong budaya. Bapak Ahmad Tohari ini menginisiasi satu kantong budaya yang menggerakan generasi muda untuk membaca, semacam pusat literasi,” jelas Menbud Fadli Zon dalam keterangannya, dikutip Minggu (28/6/2026).
Menurut Menbud, keberadaan Rumah Sastra Ahmad Tohari memiliki peran strategis sebagai pusat literasi yang tidak hanya menjaga warisan intelektual seorang sastrawan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran dan inspirasi bagi masyarakat. Setiap hari, perpustakaan dan rumah baca tersebut dikunjungi pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum yang memanfaatkan koleksi dan berbagai aktivitas literasi yang diselenggarakan.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan memberikan penghormatan kepada sastrawan Ahmad Tohari atas dedikasi dan kontribusinya dalam memajukan sastra Indonesia. Melalui karya-karyanya seperti
Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari mengangkat kehidupan masyarakat Banyumas beserta nilai-nilai kemanusiaan, tradisi lokal, dan kekhasan bahasa Banyumasan. Adaptasi
Ronggeng Dukuh Paruk ke dalam film
Sang Penari juga makin memperluas apresiasi publik terhadap kekayaan budaya Banyumas.
Menurut Menbud, semangat yang dibangun Ahmad Tohari sejalan dengan amanat Pasal 32 Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yaitu memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia. Melalui karya sastra, beliau telah menjalankan misi kebudayaan dengan menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan, identitas bangsa, dan kearifan lokal kepada masyarakat luas.
Sastra, menurut Menbud, merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya tertua yang memiliki peran penting dalam merekam perjalanan sejarah, membangun karakter bangsa, sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia. Namun demikian, tantangan yang masih dihadapi saat ini adalah belum optimalnya keterhubungan karya sastra Indonesia dengan pembaca internasional.
Merespons tantangan tersebut, Kementerian Kebudayaan menghadirkan berbagai program strategis untuk memperkuat ekosistem sastra nasional. Program-program tersebut meliputi Laboratorium Penerjemah dan Promotor Sastra, Penerjemahan Karya Sastra, Penguatan Komunitas dan Festival Sastra, Manajemen Talenta Nasional Bidang Sastra, serta Pengembangan Sastra Berbasis
Intellectual Property (IP).
Lebih lanjut, Menbud menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kekayaan budaya yang sangat besar atau yang beliau sebut sebagai
megadiversity. Kekayaan tersebut harus dikelola secara kolaboratif oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, pemerintah desa, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat agar mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi budaya.
Ahmad Tohari menyambut baik revitalisasi ini. Dalam sambutan yang disampaikan, ia menuturkan ramainya pengunjung serta banyaknya diskusi lintas generasi yang diciptakan lewat perpustakaan yang dikelolanya.
Turut hadir mendampingi Menbud Fadli Zon dalam peresmian ini yakni Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Diplomasi Kebudayaan dan Hubungan Internasional, Nissa Rengganis; Staf Khusus Menteri Kebudayaan Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda; Direktur Sarana dan Prasarana Kebudayaan, Feri Arlius; Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah, Nahar Cahyandaru.
Hadir pula sejumlah tamu undangan di antaranya Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono; keluarga besar Ahmad Tohari; jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA) Kabupaten Banyumas; serta sejumlah seniman dan budayawan.
Peresmian Rumah Sastra Ahmad Tohari menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan Kementerian Kebudayaan dalam mendukung inisiatif pemajuan kebudayaan yang datang dari komunitas. Menbud berharap, “Rumah baca perpustakaan Ahmad Tohari ini bisa menjadi perpustakaan yang hidup, bisa menjadi kantong budaya dan kegiatan-kegiatan kebudayaan yang terus berkesinambungan,” pungkas Menbud Fadli Zon.
(lam)