LANGIT7.ID, - Mohamed Salah menjadi bintang Liverpool usai mengalahkan Manchester United (MU) di Old Trafford dalam laga 'Big Match' Liga Inggris pekan kesembilan, Ahad (24/10). Pasalnya, pemain asal Mesir itu mencatatkan hattricknya di laga ini.
Kesuksesan yang dicapai Mo Salah saat ini memang tak bisa dipungkiri. Tak ada yang mengira jika ia akan menjadi seorang idola baru bagi The Anfield Gank, istilah sebutan untuk fans atau pendukung Liverpool yang tinggal di kota Liverpool.
Pada awalnya, itu hanya tentang tujuan. Penggemar Liverpool terpikat, tergila-gila dengan orang Mesir berambut keriting dan berjanggut ini, yang datang dengan harapan sederhana tetapi dengan cepat jauh melampaui mereka.
Namun, dengan segera mungkin kehadirannya memberikan pengaruh tak terbatas di atas lapangan hijau. Dalam beberapa bulan awal karirnya di Liverpool, pria kelahiran Nagrig, Mesir, itu kemudian menjadi panutan, ikon, inisiator, hingga membawa perubahan positif.
Bahkan, The Anfield Gank pun mengeluarkan sebuah nyanyian yang belum pernah terjadi sebelumnya:
Jika dia mencetak beberapa gol lagiMaka saya akan menjadi Muslim jugaJika dia cukup baik untukmuDia cukup baik untukkuDuduk di masjid...Di situlah saya ingin beradaMungkin Salah tidak sengaja membawa perubahan ini. Dia hanya menjalani hidup dan pekerjaannya seperti biasa. Ia pun dikenal karena selebrasinya melakukan gerakan sujud.
"Ini seperti berdoa atau berterima kasih kepada Tuhan atas apa yang telah saya terima. Hanya berdoa dan berdoa untuk kemenangan," kata Salah dalam wawancara dengan CNN.
"Saya selalu melakukan itu, sejak saya masih muda, dan itu di mana-mana," tambahnya.
Salah acuh tak acuh dan tetap sederhana tentang pengaruhnya. Tetapi, Salah menjadi contoh sebagai salah satu olahragawan yang memberikan perubahan positif di dunia sepak bola.
Berdasarkan sebuah studi pada bulan Mei 2020 oleh Departemen Ilmu Politik di Universitas Stanford, mengungkapkan penurunan 18,9 persen dalam kejahatan rasial terhadap Muslim di Liverpool sejak kedatangan Salah. Ada juga tweet anti-Muslim yang secara drastis lebih sedikit.
"Mengapa kejahatan kebencian menurun? Ada dua penjelasan spekulatif yang kami pikirkan," tanya William Marble, salah satu penulis studi Stanford University, mengatakan kepada LFC Stories.
"Yang pertama adalah bahwa orang-orang yang akan melakukan kejahatan kebencian sekarang lebih toleran. Saya pikir tidak mungkin orang fanatik ekstrim yang melakukan kejahatan kebencian menjadi lebih toleran setelah melihat bintang sepak bola yang tidak terlihat seperti mereka," ujarnya.
"Penjelasan kedua lebih mungkin: dengan banyak orang berbicara tentang Mo Salah, menjadi jelas bahwa orang-orang seperti Salah diterima - mengirim pesan kepada orang-orang yang dimotivasi oleh kebencian bahwa pandangan mereka tidak dibagikan secara luas," terangnya.
Dampak Salah sangat relevan dengan kondisi yang terjadi saat ini, dimana pada saat Islamofobia hampir menjadi sesuatu yang normal di masyarakat. Salah satunya seperti yang dilakukan Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.
Dalam sebuah kolom untuk Telegraph, membandingkan wanita berburka dengan "kotak surat". Insiden itu, menurut organisasi anti-rasisme Tell MAMA, menyebabkan peningkatan 375 persen dalam insiden anti-Muslim.
Selain itu, pengabaian umum Partai Konservatif terhadap Islamofobia adalah masalah yang sangat nyata. Pada tahun 2005, Johnson kembali menggambarkan Islamofobia sebagai "reaksi alami" terhadap agama yang dia sebut sebagai sektarian paling kejam dari semua agama dalam ketidakberdayaannya terhadap orang-orang yang tidak percaya.
Pada 2015, pendukung Muslim Liverpool diejek karena berdoa di Anfield hingga sekelompok penggemar Chelsea difilmkan meneriakkan "Salah adalah seorang pembom". Sikap itu seperti meresap dalam dunia sepak bola.
Namun, semua pandangan maupun sikap-sikap negatif yang ditujukan itu berubah berkat Salah. Editor The Muslim Vibe, Salim Kassam, bercerita tentang momen di semifinal Liga Champions di Roma.
"Tepat sebelum kick-off, saya berada di stadion dan sudah waktunya untuk sholat maghrib. Kami menemukan sudut untuk berdoa dan disambut oleh fans Liverpool yang lewat dengan tepuk tangan dan nyanyian 'Mo Salah'. Ini belum pernah terjadi sebelumnya," ujar Kassam kepada LFC Stories.
Meski begitu, Kassam menilai masih banyak yang perlu dilakukan. Terlebih, sepakbola memiliki potensi untuk mengeluarkan yang terbaik dan yang terburuk dari setiap orang.
"Saya masih merasa bahwa tidak cukup dilakukan untuk mengatasi semua jenis diskriminasi, baik itu di tribun maupun lapangan," imbuhnya.
Senada dengan hal tersebut, rekan penulis lain dari Universitas Stanford, Salma Mousa, menyebut masih terlalu banyak insiden prasangka dan diskriminasi terbuka dalam sepak bola.
"Para pemain bertahan dengan banyak pelecehan di dalam dan di luar lapangan. Insiden Islamofobia mungkin kurang umum karena tidak banyak pesepakbola Muslim yang terlihat. Kebetulan LFC punya dua," ucap Salma kepada LFC Stories.
Ben Bird, seorang pendukung Nottingham Forest, mengaku sebagai Islamofobia. Dalam sebuah artikel untuk The Guardian, ia mengungkapkan alasannya masuk Islam, terutama karena sosok Mohamed Salah.
"Salah menunjukkan kepada saya bahwa anda bisa menjadi normal dan seorang Muslim. Kamu bisa menjadi dirimu sendiri," kata Ben Bird.
(sof)