LANGIT7.ID, Jakarta; - Dunia kemanusiaan Indonesia kembali berduka dengan gugurnya salah satu putra terbaiknya, Ahmad Ali Zaki, atau yang lebih akrab disapa Bang Jek. Sosok pendiri Yayasan Gerak Bareng ini mengembuskan napas terakhirnya di tengah tugas mulia saat menyalurkan bantuan bagi korban gempa bumi di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kepergian almarhum meninggalkan jejak duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan relawan, tetapi juga bagi seluruh masyarakat yang pernah tersentuh oleh kebaikan dan kepeduliannya.
Bang Jek dikenal luas sebagai pejuang kemanusiaan yang senantiasa berada di garis terdepan setiap kali bencana melanda tanah air. Melalui Gerak Bareng, ia mendedikasikan hidupnya untuk menghimpun dan menyalurkan kebaikan kepada mereka yang membutuhkan, tanpa mengenal lelah dan batas wilayah. Dari pelosok pedalaman Indonesia hingga aksi kemanusiaan di tingkat internasional, semangatnya untuk hadir membawa manfaat bagi sesama tidak pernah padam.
Misi kemanusiaan di Nusa Tenggara Timur menjadi pengabdian terakhir bagi almarhum. Ketika gempa bumi mengguncang wilayah tersebut, Bang Jek tanpa ragu langsung turun ke lapangan untuk memastikan logistik dan bantuan dapat menjangkau warga terdampak di pelosok terpencil. Dalam perjuangannya yang intensif membagikan bantuan di tengah kondisi medan yang berat dan cuaca yang menantang, kondisi fisiknya yang kelelahan membuat almarhum akhirnya mengembuskan napas terakhir di medan pengabdian.
Duka cita atas gugurnya Bang Jek memicu respons dan penghormatan setinggi-tingginya dari berbagai lembaga negara, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta instansi penanganan darurat. Perwakilan BNPB dan tim gabungan menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi dan pengorbanan almarhum yang dinilai sebagai pahlawan kemanusiaan sejati. Kehadirannya di lokasi bencana bukan sekadar menyalurkan barang, melainkan memberikan harapan bagi warga yang sedang tertimpa musibah.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyatakan bahwa pemerintah turut berbelasungkawa atas kepergian Ahmad Zaki yang gugur dalam tugas kemanusiaan di Kabupaten Manggarai. “Pemerintah menyampaikan dukacita yang mendalam atas berpulangnya Bapak Ahmad Zaki bin Ali Hamzan, selaku founder Yayasan Gerak Bareng, seorang relawan kemanusiaan yang meninggal dunia saat menjalankan misi membantu masyarakat terdampak bencana gempa bumi,” ujar Berton dalam keterangan resmi perkembangan penanganan bencana di NTT, dikutip Ahad (23/8/2026).
Berdasarkan laporan yang diterima, Ahmad Zaki meninggal dunia pada Jumat (21/8/2026) pukul 16.04 Wita. Almarhum diketahui sedang berada di Posko Damer, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, untuk menyalurkan bantuan dan mendampingi warga terdampak gempa.
BNPB memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi serta pengabdian almarhum selama ini di berbagai wilayah bencana. Berton juga menyampaikan simpati mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan. “Kepada istri, anak, dan keluarga almarhum yang ditinggalkan, semoga tetap diberikan ketabahan dan keikhlasan,” ucap Berton.
Mengingat lokasi berpulangnya almarhum berada di area yang sulit dijangkau, proses evakuasi jenazah dilakukan secara khusus menggunakan helikopter. Petugas gabungan bergerak cepat menerbangkan jenazah almarhum dari medan penugasan di NTT menuju titik evakuasi utama sebelum diberangkatkan ke rumah duka di Jakarta. Pemandangan helikopter yang membawa jasad sang relawan menjadi simbol penghormatan terakhir atas perjuangan luar biasa yang telah ia tunaikan hingga akhir hayatnya.
Kepulangan jenazah Bang Jek ke rumah duka disambut oleh gelombang Isak tangis dan doa dari para tokoh nasional, sahabat relawan, serta masyarakat luas. Ketika jenazah dishalatkan, tampak hadir para pimpinan lembaga dan tokoh keagamaan serta politik yang memberikan penghormatan terakhir. Di antara tokoh yang hadir mendampingi prosesi salat jenazah tersebut adalah Presiden PKS serta Almuzammil Yusuf dan Dery Sulaiman yang ikut mendoakan kebaikan dan keberkahan atas almarhum.
Kehadiran para tokoh dan ribuan petakziah dalam salat jenazah tersebut menunjukkan betapa luasnya jangkauan kebaikan yang telah ditanamkan almarhum semasa hidupnya. Presiden PKS dan Almuzammil Yusuf turut menyampaikan belasungkawa yang mendalam, mengingat almarhum sebagai sosok ustadz, guru, dan aktivis sosial yang istiqamah serta konsisten mengajarkan kepedulian kepada sesama. Kehilangan Bang Jek merupakan duka bagi gerakan dakwah dan kemanusiaan di Indonesia.
Sepanjang hidupnya, Bang Jek tidak hanya memimpin lembaga, tetapi juga turun langsung memikul bantuan, menyapa para pengungsi, dan mendengarkan keluh kesah kaum dhuafa. Dedikasinya dalam membangun pilar-pilar sosial, mulai dari pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga tanggap darurat bencana menjadikan Yayasan Gerak Bareng sebagai rumah bagi ribuan orang baik untuk saling menolong. Kebaikan-kebaikan tulus itu kini menjadi warisan tak ternilai yang ditinggalkannya.
Gugurnya almarhum di medan tugas kemanusiaan memberikan pelajaran berharga tentang hakikat kehidupan seorang hamba di muka bumi. Kepergian yang ditangisi oleh banyak orang dari berbagai kalangan menjadi bukti sahih bahwa umur yang dihabiskan untuk melayani sesama akan membuahkan akhir kehidupan yang indah (husnul khatimah) insya Allah. Bang Jek telah menuntaskan tugasnya di dunia dengan paripurna, meninggalkan jejak keteladanan yang akan terus menginspirasi generasi relawan mendatang.
Perjalanan hidup dan akhir yang mulia dari almarhum Ahmad Ali Zaki sangat selaras dengan sebuah bait hikmah dalam bahasa Arab berikut: تَوَلَّدْتَ إِذْ وَلَدَتْكَ أُمُّكَ بَاكِيًا ... وَالنَّاسُ حَوْلَكَ يَضْحَكُونَ سُرُورًافَاعْمَلْ لِنَفْسِكَ أَنْ تَكُونَ إِذَا بَكَوْا ... يَوْمَ مَوْتِكَ ضَاحِكًا مَسْرُورًا
“
Engkau dilahirkan oleh ibumu dalam keadaan menangis, sementara orang-orang di sekelilingmu tertawa gembira. Maka beramallah untuk dirimu, agar pada hari kematianmu saat mereka menangis, engkau tersenyum bahagia.”
Pesan berharga dari hikmah ini mengingatkan bahwa ukuran sejati keberhasilan hidup seseorang terletak pada bagaimana ia mengisinya dengan kebaikan dan kebermanfaatan. Bang Jek telah membuktikan pesan tersebut: ia menyambut akhir hayatnya dengan senyuman dan kedamaian di medan pengabdian, sementara orang-orang yang dicintai dan dibantunya meneteskan air mata pelepasan penuh rasa hormat serta doa yang melangit.
(zhd)