Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 05 Oktober 2026
home global news detail berita

Tradisi Kepemimpinan di Muhammadiyah: Musyawarah dan Rasional, Tanpa Kasta

ahmad zuhdi Senin, 05 Oktober 2026 - 14:04 WIB
Tradisi Kepemimpinan di Muhammadiyah: Musyawarah dan Rasional, Tanpa Kasta
Tradisi Kepemimpinan di Muhammadiyah: Musyawarah dan Rasional, Tanpa Kasta. Foto: Istimewa.
LANGIT7.ID-Jakarta; -

Sebagai organisasi Islam modern, Muhammadiyah senantiasa menegaskan sistem suksesi kepemimpinan yang berasaskan pada prinsip rasionalitas dan musyawarah. Sistem pemilihan di dalam tubuh persyarikatan ini murni didasarkan pada kapasitas serta integritas figur yang bersangkutan, bukan berdasarkan klaim spiritual personal seperti wangsit ataupun garis keturunan.

Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, M. Izzul Muslimin, menyampaikan bahwa tradisi kepemimpinan yang objektif dan demokratis tersebut telah diwariskan serta konsisten diterapkan sejak awal organisasi didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan.

Izzul Muslimin menjelaskan bahwa sejarah pembentukan struktur pimpinan Muhammadiyah memberikan gambaran nyata mengenai penolakan terhadap sistem politik dinasti maupun kasta sosial. Pasca-wafatnya Pendiri Muhammadiyah, tongkat kepemimpinan tidak diserahkan kepada keturunannya, melainkan dialihkan kepada Kiai Ibrahim yang dipilih atas dasar kapasitas keilmuannya sebagai ulama besar alumni Mekkah.

"Mencari pemimpin yang memang dianggap memiliki kapasitas yang tepat untuk memimpin Muhammadiyah dan itulah yang ditunjuk siapapun yang bersangkutan tidak mengenal keturunannya siapa begitu," ujar Izzul Muslimin dikutip laman Muhammadiyah, Senin (5/10/2026).

Baca Juga: Tafsir Al-A'raf Ayat 179: Manusia yang Lebih Sesat dari Hewan Ternak

Pengabaian terhadap sistem ikatan darah ini terus berlangsung pada estafet kepemimpinan berikutnya di tingkat pusat hingga daerah. Meskipun lahir di tanah Jawa, kepemimpinan Muhammadiyah terbuka luas bagi seluruh kader terbaik dari berbagai penjuru tanah air tanpa memandang latar belakang kesukuan maupun status sosial. Izzul menegaskan bahwa di tubuh Muhammadiyah tidak dikenal istilah darah biru yang menempatkan seseorang pada posisi lebih tinggi secara istimewa.

"Di Muhammadiyah tidak mengenal kasta. Bahwa yang darah biru atau keturunan itu lebih tinggi nilainya tidak seperti itu," imbuhnya.

Pola pikir rasional inilah yang melandasi mekanisme pemilihan struktur Pimpinan Pusat, Wilayah, Daerah, hingga Ranting melalui sistem musyawarah bertingkat. Model ini terbukti efektif dalam mencegah konfrontasi terbuka serta persaingan langsung yang berpotensi memecah belah persatuan kader. Kendati dinamika organisasi tetap berjalan hidup, proses ini dinilai mampu menjaga kondusivitas internal persyarikatan. "Ini saya kira yang menyebabkan akhirnya Muhammadiyah dalam proses pemilihan pimpinan itu relatif tidak memunculkan gejolak, dinamika tetap ada. Saya kira ini penting juga, kita juga tidak ingin terus enggak ada yang berminat," ungkap Izzul.

Melalui penerapan asas musyawarah yang rasional dan terstruktur ini, proses suksesi kepemimpinan di Muhammadiyah telah memenuhi kriteria tata kelola organisasi yang objektif, transparan, dan adil. Tradisi ini menjadi cermin komitmen Muhammadiyah dalam merawat nilai-nilai kebangsaan dan demokrasi Islam yang berkemajuan.

Baca Juga: KBRI Singapura dan KBRI Australia Akui Tak Miliki Dokumen Pendidikan Gibran

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 05 Oktober 2026
Imsak
04:11
Shubuh
04:21
Dhuhur
11:45
Ashar
14:47
Maghrib
17:50
Isya
18:58
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan