LANGIT7.ID- Di sebuah sudut Masjid KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, udara Jumat di penghujung Desember 2025 itu terasa lebih reflektif. Saat ribuan orang di luar sana mungkin sedang sibuk memesan tiket liburan atau merancang pesta kembang api untuk menyambut 2026, Miftahulhaq, anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, justru mengajak jamaah untuk melakukan manuver ke dalam batin. Ia menawarkan sebuah instrumen klasik dalam tradisi Islam yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk pergantian kalender: muhasabah.
Ajakan ini bukan sekadar rutinitas akhir tahun. Dalam khutbahnya, Miftahulhaq membawa narasi bahwa perjalanan hidup selama setahun terakhir adalah sebuah laboratorium keimanan. Baginya, apa pun yang terjadi sepanjang 2025, baik rencana yang meledak menjadi kesuksesan maupun niat yang layu sebelum berkembang, merupakan takdir terbaik dari Allah. Namun, keimanan pada takdir ini bukan berarti kepasrahan buta. Di sinilah muhasabah masuk sebagai penyeimbang.
Muhasabah, dalam kacamata teologis, adalah sebuah tuntutan agar manusia tidak kehilangan arah dalam labirin kehidupan. Miftahulhaq menyitir pesan ikonik Umar bin Khattab: Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan timbanglah amal kalian sebelum amal itu ditimbang. Kalimat ini seolah menjadi pengingat keras bahwa waktu adalah modal yang paling mahal dan tak dapat diputar kembali. Dalam konteks filsafat Islam, waktu bukan sekadar linier, melainkan eskatologis.
Merujuk pada pandangan Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, manusia memang memiliki ruang untuk berkehendak dan merencanakan (ikhtiar), namun hasil akhir tetap berada dalam domain kekuasaan Tuhan. Miftahulhaq memperkuat argumen ini dengan mengutip Surah Luqman ayat 34. Ayat tersebut secara tegas membatasi pengetahuan manusia: tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu apa yang akan dikerjakannya besok, dan di bumi mana ia akan mati. Ketidaktahuan ini seharusnya melahirkan kerendahan hati, bukan kecemasan yang melumpuhkan.
Maka, menyongsong 2026, Islam tidak melarang penganutnya untuk membuat peta jalan atau perencanaan strategis. Namun, ada rambu-rambu etika yang harus dipasang. Miftahulhaq mengingatkan pesan dalam Surah Al-Kahfi ayat 23-24 agar tidak memastikan sesuatu yang akan datang tanpa menyebut insyaallah. Frasa ini bukan sekadar basa-basi lisan, melainkan pengakuan otoritas mutlak Sang Pencipta atas realitas masa depan.
Dalam naskah interpretatif ini, tampak bahwa poin krusial dari muhasabah adalah pergeseran orientasi penilaian. Manusia modern sering kali terjebak dalam jebakan validitas eksternal atau penilaian sesama manusia. Namun, di mimbar UMY itu, ditekankan bahwa satu-satunya kurator amal yang berhak memberi nilai hanyalah Allah. Tugas manusia adalah berproses dengan sebaik-baiknya tanpa perlu terbebani oleh persepsi publik.
Konsistensi atau istiqamah juga menjadi sorotan. Miftahulhaq menggarisbawahi bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun secara kuantitas terlihat kecil. Hal ini sejalan dengan prinsip dalam Surah Az-Zalzalah, bahwa kebaikan sebesar biji sawi pun akan mendapatkan balasan. Prinsip ini sangat relevan untuk menjaga semangat di tahun mendatang agar tidak hanya sekadar menggebu-gebu di awal tahun, namun layu di tengah jalan.
Sebagai penutup yang menggugah, khutbah tersebut menghadirkan peringatan dari Surah Al-Munafiqun ayat 10. Gambaran tentang orang yang memohon penangguhan kematian demi bisa bersedekah adalah sebuah peringatan tentang penyesalan yang terlambat. Waktu yang tersisa di penghujung 2025 ini harus dimanfaatkan untuk menutup lubang-lubang amal saleh yang mungkin masih bocor sepanjang tahun.
Pada akhirnya, merayakan pergantian tahun dalam perspektif ini bukan berarti meniup terompet paling keras, melainkan sujud paling dalam. Menjadikan 2025 sebagai cermin retak yang harus diperbaiki, dan melihat 2026 sebagai lembaran kosong yang siap diisi dengan ketulusan. Seperti yang ditegaskan Miftahulhaq, kita tidak pernah tahu kapan panggilan itu datang, maka saat inilah waktu untuk memberikan yang terbaik.
