Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 10 Oktober 2026
home global news detail berita

Fadli Zon Soroti Warisan Antikolonialisme dan Penyebaran Islam Lintas Benua dalam Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf

zada nur ilma Sabtu, 10 Oktober 2026 - 11:11 WIB
Fadli Zon Soroti Warisan  Antikolonialisme dan Penyebaran Islam Lintas Benua dalam Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan warisan intelektual dan perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai bukti kontribusi Nusantara terhadap peradaban dunia. Peringatan 400 tahun kelahirannya di Am
LANGIT7.ID-Amsterdam; Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa warisan intelektual, spiritual, dan perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari (1626–1699) merupakan salah satu bukti penting kontribusi Nusantara terhadap peradaban dunia. Hal ini disampaikan dalam Peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf Al-Makassari di pusat kebudayaan Indonesia (Indonesia House Amsterdam/IHA), Amsterdam, Jumat (09/10/2026).

Peringatan ini juga tercatat dalam komemorasi tokoh dan peristiwa bersejarah UNESCO periode 2026–2027.
Melalui rangkaian pameran, diskusi panel ahli, dan pemutaran film bagi publik di Belanda, Kementerian Kebudayaan mengangkat kembali perjalanan dan warisan Syekh Yusuf sebagai tokoh ulama besar, pemikir sufi, sekaligus pejuang antikolonial yang menghubungkan sejarah Indonesia, Belanda, Sri Lanka, hingga Afrika Selatan.

Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon menegaskan peringatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat diplomasi budaya Indonesia, memperkenalkan kontribusi intelektual dan spiritual Syekh Yusuf kepada masyarakat internasional, memperdalam pemahaman terhadap sejarah—termasuk kolonialisme dan pengasingan, serta mendorong kolaborasi internasional dalam pelestarian warisan budaya dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Menteri Kebudayaan juga menyoroti peran Nusantara sebagai pusat pertukaran pengetahuan dan peradaban sejak berabad-abad lalu. “Perjalanan Syekh Yusuf dari Gowa menuju berbagai pusat keilmuan di dunia Islam, hingga pengasingannya akibat perlawanan terhadap VOC, mencerminkan bagaimana gagasan dan nilai-nilai kemanusiaan dapat melampaui batas wilayah, kekuasaan, dan zaman,” ujar Menbud.

Jejak pemikiran Syekh Yusuf yang melintasi berbagai wilayah, menurut Menbud, menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan dan kebudayaan telah menghubungkan masyarakat lintas bangsa, jauh sebelum terbentuknya hubungan diplomatik modern. “Warisan Syekh Yusuf terus menghubungkan masyarakat dari berbagai bangsa dan generasi,” ujar Menbud Fadli Zon.

Lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, pada 1626, Syekh Yusuf menempuh perjalanan intelektual melalui berbagai pusat keilmuan di Nusantara, India, hingga Timur Tengah. Selain dikenal sebagai ulama dan pemikir sufi, ia juga terlibat dalam perlawanan terhadap ekspansi VOC di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa. Setelah ditangkap pada 1683, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon, kini Sri Lanka, pada 1684, sebelum kembali dipindahkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, pada 1693.

Menbud menyoroti bahwa pengasingan tersebut tidak menghentikan pengaruh intelektual dan spiritual Syekh Yusuf. “Di Afrika Selatan, ia terus mengajar dan berperan penting dalam membentuk komunitas Muslim awal yang terorganisasi, bahkan dikenal luas sebagai “Bapak Islam di Afrika Selatan” (Father of Islam in South Africa). Jejak pengaruhnya masih dapat ditemukan hingga kini, termasuk melalui situs kramat dan kawasan Macassar di dekat Cape Town yang dinamai berdasarkan daerah asalnya di Nusantara,” ujar Menbud.
“Perjalanan Syekh Yusuf juga merupakan kisah perlawanan, pengasingan, dan keteguhan dalam memperjuangkan kemerdekaan.Pengasingan tidak membungkam beliau. Sebaliknya, gagasan dan ajarannya terus hidup serta memberikan pengaruh bagi masyarakat lintas generasi,” jelas Menbud.
Penyelenggaraan peringatan di Belanda juga memiliki makna historis tersendiri, mengingat kaitan perjalanan Syekh Yusuf dengan sejarah kolonial Belanda di Nusantara. Menbud menegaskan pentingnya membuka dialog sebagai ruang untuk memperdalam kajian sejarah, membangun pemahaman bersama, dan memperkuat dialog kebudayaan antara Indonesia dan Belanda.

Pameran “Sacred Journey of Syekh Yusuf Al-Makassari” berlangsung pada 9–15 Oktober 2026 di Indonesia House Amsterdam. Sebagai bagian dari rangkaian peringatan, Kementerian Kebudayaan juga menyelenggarakan seminar internasional secara hibrida bertajuk “Syekh Yusuf Al-Makassari: Collective Memories of Knowledge, Freedom, and Humanity Across the Indian Ocean”. Diskusi ini menghadirkan sejumlah akademisi dan pakar, antara lain Prof. Martin van Bruinessen, Prof. Muhammed Haron, Prof. Oman Fathurahman, Dr. Mukhlis PaEni, dan Dr. Suryadi. Diskusi berfokus pada jaringan intelektual Syekh Yusuf, pemikiran spiritualnya, perlawanan terhadap kolonialisme, serta pembentukan memori kolektif yang menghubungkan masyarakat di kawasan Samudra Hindia.

Menbud Fadli Zon menegaskan bahwa hubungan antar masyarakat sering kali telah terbentuk jauh sebelum hubungan diplomatik formal. Sejalan dengan upaya pelestarian warisan tersebut, Kementerian Kebudayaan juga tengah mengembangkan rencana pendirian Rumah Budaya Indonesia (RBI) dan Museum Syekh Yusuf di kawasan Macassar, Cape Town, Afrika Selatan.

“RBI dan Museum Syekh Yusuf ini diharapkan dapat menjadi pusat pelestarian sejarah, pendidikan, penelitian, serta penguatan hubungan kebudayaan Indonesia dengan masyarakat Afrika Selatan, termasuk komunitas Cape Malay, yang menurut Menteri Kebudayaan Afrika Selatan Gayton McKenzie saat ini berjumah sekitar 2,7 juta orang,” ujar Menbud Fadli Zon.

Hadir untuk mendampingi Menteri Kebudayaan, yakni Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan, Anindita Kusuma Listya; serta Direktur Kerja Sama Kebudayaan, Mardisontori.
Menbud turut menekankan bahwa pemajuan kebudayaan Indonesia merupakan amanat Pasal 32 ayat (1) UUD 1945, yang menempatkan kebudayaan nasional dalam peradaban dunia. Upaya pelestarian manuskrip, pengembangan penelitian, serta kerja sama kebudayaan internasional menjadi bagian penting untuk memastikan warisan sejarah tetap relevan dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
“Melalui peringatan ini, kita berharap semakin banyak ruang dialog yang terbuka, pemahaman sejarah bersama semakin mendalam, serta hubungan kebudayaan dan masyarakat Indonesia–Belanda semakin kuat. Semoga peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari terus menginspirasi pengembangan ilmu pengetahuan, perjuangan kebebasan, dan nilai-nilai kemanusiaan lintas bangsa dan generasi,” pungkas Menbud Fadli Zon

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 10 Oktober 2026
Imsak
04:08
Shubuh
04:18
Dhuhur
11:43
Ashar
14:44
Maghrib
17:49
Isya
18:58
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan