LANGIT7.ID-Jakarta; -
Anggota Parlemen Malaysia Kalam Salan menyampaikan pesan pada
Presiden Prabowo Subianto terkait
kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (
karhutla) di Indonesia dalam sidang Dewan Rakyat Malaysia, Rabu (21/10/2026). Uniknya, alih-alih memakai bahasa Melayu, Kalam Salan memilih membacakan pidatonya dengan
bahasa Jawa.Merujuk
New Straits Times, Kamis (22/10/2026), Kalam berharap dengan
bahasa Jawa, pesannya dapat mudah dipahami dan sampai ke pemerintah Indonesia.
Baca juga: Lebih dari 70 Ribu Balita Derita ISPA Dampak Karhutla, Puan: Kesehatan Anak Harus Jadi Komitmen NasIonal"
Pak Prabowo, mohon segera mengambil tindakan untuk pemadaman api, hentikan pembakaran, dan memastikan masalah ini (
kabut asap) tidak berulang setiap tahunnya," kata Kalam.
Ia berharap Malaysia dan Indonesia dapat kembali menikmati langit cerah dan udara bersih agar masyarakat kedua negara dapat hidup sehat dan damai.
Setelah menyampaikan pesan dan harapannya, Kalam meminta izin untuk berpidato menggunakan
bahasa Jawa. Alasan Kalam menggunakan
bahasa Jawa agar pemerintah Indonesia mudah memahami pesan yang disampaikannya.
Lewat pesannya, Kalam menyoroti dampak
kabut asap akibat
karhutla di Indonesia yang juga dirasakan oleh masyarakat Malaysia. Ia juga menekankan berbagai permasalahan kesehatan yang disebabkan oleh kabut asap seperti kesulitan bernapas, tenggorokan gatal hingga batuk.
Tak hanya masalah kesehatan, lanjut Kalam, kabut asap juga berdampak pada berbagai sektor mulai dari pendidikan, pariwisata, pekerjaan, hingga sekolah-sekolah yang terpaksa tutup sementara.
Baca juga: Prabowo Ancam Cabut Izin Perusahaan Penyebab KarhutlaKalam juga menyoroti pernyataan pejabat RI yang mengatakan bahwa hutan Indonesia memasok oksigen bagi Malaysia.
"Apakah pohon-pohon di Malaysia terbuat dari plastik? Apakah pohon-pohon itu tidak bisa menghasilkan oksigen" tanyanya.
Di samping memberi pesan untuk Prabowo, Kalam juga mendesak pemerintah Malaysia mengambil jalur diplomatik dengan melibatkan Filipina untuk penanganan kabut asap lintas batas.
Dalam pernyataannya, Kalam memberikan sejumlah usulan yang mencakup penguatan penegakan hukum bersama, sistem peringatan dini menggunakan satelit, hingga pembentukan tim tanggap darurat.
(est)