LANGIT7.ID, Jakarta - Perubahan iklim merupakan ancaman global yang dampaknya akan dirasakan seluruh dunia. Munculnya bukti sains dan kualitatif yang tidak bisa dibantah bahwa bumi semakin panas, cuaca ekstrim, permukaan air laut naik dan banjir dalam skala yang ekstrem.
Hal tersebut disampaikannya Wakil Ketua DPR RI, Abdul Muhaimin Iskandar saat menghadiri Talkshow bersama Pelaku Usaha di Paviliun Indonesia COP26 UNFCCC Glasgow, Senin (8/11). Menurutnya, perubahan iklim adalah ancaman katastropik atau mematikan.
"Semuanya akibat dari perubahan iklim. Perubahan iklim adalah ancaman katastropik (mematikan) bagi keberlanjutan dan kemakmuran semua negara dan semua penduduk dunia," kata Muhaimin.
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan Indonesia memiliki kedudukan khusus dan dapat memainkan peran penting dalam mendinginkan suhu bumi. Dia menyebut Indonesia sebagai paru-paru dunia, karena hutan alam dan mangrove akan dan telah menyerap karbon dalam skala raksasa.
Meski demikian, Gus Muhaimin mengakui bahwa sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki kerentanan ekstrim akibat perubahan iklim, naiknya permukaan laut, curah hujan ekstrem dan kegagalan panen.
Baca juga:
Pemprov DKI Targetkan Penerapan Sanksi Uji Emisi Pada 2022Untuk itu, Gus Muhaimin menilai perlu ada solusi-solusi perubahan iklim yang urgen dan mendesak demi kepentingan Indonesia dan kebutuhan dunia.
"Kita perlu menggunakan pendekatan a whole government dan a whole society untuk mencapai target peak emission nasional dan carbon net sink FOLU (Forestry and Other Land Use) pada tahun 2030 dan Net Zero Emission pada tahun 2060 atau lebih cepat," jelasnya.
Dalam hal ini, Gus Muhaimin mengutarakan dua solusi mengatasi perubahan iklim. Pertama, perubahan kebijakan, dan kedua adalah perubahan perilaku.
Dua solusi ini disebutnya harus dilaksanakan berbarengan. Sebab, perubahan di sisi negara diyakininya tidak cukup tanpa diimbangi perubahan perilaku masyarakat.
"Perubahannya itu dari sisi supply dan sisi demand sekaligus. Dengan cara ini, pada tahun 2030, kita akan menambah sumber energi kita yang bersumber dari matahari, angin dan sumber-sumber energi renewable lainnya," ujarnya.
Baca juga:
Indonesia-ETP Sepakati Transisi Energi, Kejar Target EBT 23 Persen 2025"Pada tahun 2030, kita akan berhasil menghentikan dan mengurangi deforestasi. Dan dengan cara itu pula, pada tahun 2060 atau lebih cepat, kita sudah dapat meraih target net zero kita," tambahnya.
Dirut Pertamina Power Indonesia Dannif Danu Saputro yang juga hadir dalam kesempatan tersebut memaparkan potensi besar Indonesia sebagai negara kedua penghasil energi panas bumi setelah Amerika Serikat karena berada di kawasan cincin api atau ring of fire.
"Sebesar 40 persen cadangan panas bumi dunia ada di Indonesia. Saya kira sudah waktunya cadangan yang melimpah ini bisa dioptimalkan," kata Dannif.
Di kesempatan yang sama, Deputy Direktur Corp Affairs APRIL Dian Novarina, memaparkan pentingnya Restorasi Ekosistem Riau sebagai salah satu program restorasi ekosistem terbesar di Indonesia.
"Restorasi Ekosistem Riau ini adalah untuk melindungi, menilai, memulihkan dan mengelola keanekaragaman hayati di kawasan hutan hujan lahan gambut dataran Sunda terbesar yang tersisa di Indonesia," ungkap Dian.
(sof)