LANGIT7.ID, Jakarta -
Marketplace dan media sosial menjadi sarana media bagi pelaku usaha untuk memasarkan produk dagangannya. Melalui visual sebuah produk, diharapkan mampu menarik minat banyak pembeli.
Pelaku usaha perlu mempertimbangkan pemasaran produk mereka melalui visualisasi. Sebab, visualisasi menjadi faktor penting dalam mempengaruhi persepsi seseorang.
Pemilik Warung Cece, Fajar Chaerul Azhar mengatakan,
visual branding merupakan usaha untuk menciptakan persepsi masyarakat terhadap sebuah
brand. Sehingga, profesionalitas dan keseriusan pelaku usaha dapat dicerminkan dari konten visual yang mereka sediakan.
“Saya misalnya, untuk menunjukkan profesionalitas Warung Cece, kita siapkan materi yang profesional melalui foto yang lebih menarik dan meyakinkan,” katanya di webinar Rahasia Membangun Brand di Media Sosial bagi Pelaku UMKM, Sabtu (17/7).
Menurutnya, pelaku usaha yang hanya asal dalam menampilkan
brand mereka, seperti asal foto dan asal logo, akan memberikan kesan dan persepsi
brand yang buruk. Ketika hal ini terjadi, kebanyakan orang akan menganggap remeh, seperti menyamaratakan produk pelaku usaha dengan produk yang ada di pinggir jalan.
Menciptakan
visual branding, kata Fajar, perlu menyiapkan tujuan dan latar belakang dari sebuah
brand. Pemahaman kuat
brand pelaku usaha, akan memberikan solusi bagaimana membuat konten visual yang profesional.
“Selain foto, kita juga bisa memberikan
packaging produk yang menarik, karena ini juga bagian dari konten visual,” kata dia.
Menurutnya, untuk menciptakan suatu konten visual tidak perlu memiliki alat dan kemampuan setara dengan profesional. Keterbatasan alat dan kemampuan, kata dia, tidak perlu dijadikan alasan bagi pelaku usaha untuk memberikan konten visual yang menarik dan profesional.
“Kalau kita tunggu punya alat yang bagus dan ahli di bidang editing, mau sampai kapan kita punya konten visual yang dapat diandalakan. Kita memanfaatkan apa yang kita punya, smartphone zaman sekarang juga bisa digunakan untuk foto, situs online seperti canva juga bisa kita gunakan untuk membuat desain konten visual. Jadi sebenarnya tujuan utama kita adalah membuat konten menarik, bukan mempunyai alat dan kemampuan profesional,” katanya.
Sementara Brand Manager Unilever Indonesia, Karnika Grikanandini mengatakan, berdasarkan data yang ia peroleh, setidaknya 70 persen orang membeli produk karena tertarik dari konten yang dihadirkan. Desain dan foto yang terencana dan menarik perlu diperhitungkan untuk membuat sebuah produk diminati.
“Kalau pun beberapa orang mungkin tidak beli, paling tidak dari konten visual menarik ini akan membuat produk dan brand kita diingat, ini salah satu strategi marketing. Jadi ketika suatu saat ia akan beli, maka akan kembali lagi kepada kita,” katanya saat berbicara dalam kesempaatan yang sama.
Selain itu, Nika menekankan perlunya memperhatikan postingan agar mudah terlihat. Dengan memanfaatkan tagar yang ada di instagram, tag orang terkait, dan juga memberikan lokasi dalam postingan.
“Jadi suatu saat orang cari lokasi pun, bisa jadi postingan produk kalian yang muncul, sehingga lebih mudah dikenali. Isi konten juga perlu lebih variatif, jangan semuanya soal produk dagang, bisa juga diisi dengan konten penjelasan soal produk atau tips dan trik yang ada kaitannya dengan produk kalian,” imbuhnya.
(zul)