LANGIT7.ID, Surakarta - Taman Sakura Lawu (Sakral) merupakan wana wisata yang berlokasi di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Blumbang, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Utara, Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta.
Berdiri di atas lahan seluas 2 hektar, Taman Sakral berkembang menjadi salah satu destinasi wisata menarik. Terlebih, taman tersebut telah diresmikan oleh Gubernur Jawa Tengah pada 20 Januari 2018 lalu.
Administratur Perhutani KPH Surakarta melalui Asper/KBKPH Lawu Utara Sartono, menyebut banyaknya wana wisata di wilayah Perhutani KPH Surakarta, khususnya yang berlokasi di cluster Karanganyar, akan menambah pendapatan dari bidang wisata.
Baca juga:
Mengenal Danau Gawir Destinasi Wisata Alam di Tangerang"Diharapkan ke depannya tempat ini akan ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Semoga wisata ini ada penambahan varian bunga dan wahana lain sehingga dapat menjadi daya tarik tersendiri," ujar Sartono dalam keterangan tertulisnya kepada Langit7, Rabu (24/11).
Lokasi Taman Sakral dikelilingi oleh hutan yang sangat indah dan sejuk khas pegunungan. Pengunjung juga dapat melihat secara langsung indahnya 60 pohon bunga sakura yang telah mekar (pada bulan tertentu).
Saat cuaca cerah, pengunjung juga dapat melihat Kawah Candradimuka dari kejauhan. Untuk memasuki kompleks ini, hanya perlu membayar retribusi sebesar Rp7.500 saja.
Baca juga:
Wisata Desa Banjarejo, Dari Peninggalan Hindu-Budha hingga Hewan PrasejarahSalah satu pengunjung dari Magetan, Lucia menyampaikan bahwa daya tarik wisata ini adalah pohon bunga sakura asli yang biasanya ada di Bogor dan pemandangan gunung Lawu. "Semoga ke depannya ada penambahan spot selfie dan lainnya," ungkapnya.
Sebagai informasi, Taman Sakral merupakan wana wisata kerjasama Perhutani bersama Toyota Indonesia dalam rangka 60 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Jepang.
Selain itu, Taman Sakral juga bekerjasama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS) atau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dan Kebun Raya Cibodas.
(sof)