LANGIT7.ID, Bandung - Menjadi tunanetra bukan halangan untuk berkarya. Seperti yang dilakukan Ustadz Dr Ridwan Effendi, seorang tunanetra yang mampu mendirikan pesantren di daerah Cimenyan, Bandung, Jawa Barat.
Pesantren Tahfidz Disabilitas Netra Sam’an Darushudur didirikan pada 2018 silam. Berbagai upaya terus dilakukan agar pesantren tetap berjalan. Cita-cita mendirikan pesantren itu sudah ada sejak 2014. Bukan hal mudah memang, mengingat Ustadz Ridwan memiliki keterbatasan soal melihat.
Namun itu tak membuat dia mundur. Ia terus berjalan meraih mimpi dengan mengikuti banyak pelatihan, bahkan berguru ke kiai-kiai besar di Indonesia. Pada 2014, ia membekali diri dengan bahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an.
Waktu terus berjalan, berbagai pelatihan membaca Al-Qur’an braille, mushaf khusus tunanetra. Hingga pada 2015, ada orang yang mewakafkan masjid. Ia lalu menamai masjid itu dengan Masjid Shudur, cikal-bakal Pesantren Sam’an.
“Kita beri nama Darus Sudur, tempatnya para hati kita lembut semua,” kata Ustadz Ridwan saat berbincang dengan Aa Gym melalui kajian MQ Pagi Daarut Tauhid, dikutip kanal youtube Aa Gym Official, Sabtu (4/12/2021).
Baca Juga: Sowan ke Gus Miftah, Emil Konsultasi Pesantren Lansia di Jabar
Cita-cita Ustadz Ridwan terbayar pada 2018 lalu, tiga tahun lalu. Pesantren yang ia impikan terwujud. Sam’an Qur’an mempunya semangat untuk menebar manfaat seluas mungkin dengan berempati serta memberikan hal yang terbaik.
Para santri di tempat ini tak hanya menghafal Al-Qur’an. Tapi mereka juga dididik untuk mengasah empati, belajar untuk mengesampingkan sikap egois dan sensitif membaca kondisi sosial lingkungan. Dididik biasa memberi, mengubah cara hidup agar berkarakter tangan di atas yang selalu berprinsip memberi baik materi, tenaga maupun ilmu.
Lalu para santri juga dididik untuk selalu berarti, yakni menjadikan diri senantiasa bermanfaat bagi masyarakat sehingga kehadirannya selalu berarti dan dinanti.
Perjuangan Ustadz Ridwan tak sia-sia. Meski para santri memiliki kekurangan dalam hal penglihatan, namun mereka mampu menghafal Al-Qur’an. Sebut saja Amin Rasyid. Santri asal Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia mampu menghafal 30 juz hanya dalam 3 tahun.
Waktu yang relatif singkat untuk segala keterbatasan. Tak hanya Amin Rasyid, di pesantren ada 25 santri usia produktif. Ada pula dua santri yang sudah lanjut usia. Kata Ustadz Ridwan, meski sudah tua, namun semangat untuk belajar agama sangat tinggi.
“Ada dua rehabilitasi untuk manula sekitar 50, orientasinya untuk memberikan semangat spiritual, bisa merasakan shalat berjamaah, tahajud, shaum bersama, yang penting seluruh rutinitas berjamaah, Alhamdulillah akses mudah,” kata Ustadz Ridwan.
Ustadz Ridwan menuturkan, Pesantren Sam’an memiliki 15 pengajar dari kalangan profesional. Dari jumlah itu, 5 di antaranya adalah tunanetra. “Jadi, kita betul-betul bareng-bareng. Di sini imam masjid juga ada yang tunanetra, ada yang melihat. Karena Darushudur punya bareng-bareng,” ucapnya.
Salah satu metode menghafal yang diterapkan di pesantren ini adalah metode Hafal Tanpa Menghafalkan (HATAM). Metode ini berupa Speaker yang bisa didengarkan oleh disabilitas netra. Mereka cukup mengulang-ulang ayat yang hendak dihafal.
Namun, metode pengulangan HATAM bukan per ayat seperti pada umumnya. Pengulangan bernafas, bahkan bisa diulang perpotongan kecil yang terdiri dari beberapa kata saja, sehingga memudahkan menghafal untuk semua usia.
Kedua, multimedia, berupa aplikasi yang dapat diunduh dari berbagai platform melalui playstore dan appstore. Ini bisa membuat hafalan menjadi lebih kuat, karena panjang pendek bacaan dan nada tidak berubah.
Lalu, irama yang menguatkan hafalan dan mengunci tajwid, sehingga hafalan jauh lebih berkualitas. HATAM menggunakan 7 Naghomatil Qur’an yang menjadikan hafalan.
Akademisi yang GigihKeterbatasan Ustadz Ridwan tidak membuatnya surut dalam menuntut ilmu. Kiprahnya dalam dunia akademik patut diacungi jempol. Kini Ustadz Ridwan merupakan Kepala Program Studi Pendidikan Bahasa Arab Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Maarif Ciamis.
Sebagai dosen, Ustadz Ridwan telah menjadi seorang doktor di bidang pendidikan Bahasa Arab. Ia memperoleh beasiswa riset dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Disertasinya meneliti tentang penerapan Al-Qur'an braille di tiga negara.
(jqf)