Langit7, Blitar - Jenang sudah menjadi makanan tradisional yang biasanya sering disuguhkan dalam peringatan acara tertentu, khususnya masyarakat Jawa. Proses pembuatan jenang sendiri memakan waktu sekitar 8-10 jam.
Makanan tradisional ini cukup sering ditemui dan melekat bagi masyarakat urban. Namun, kini jenang telah merambah pasar yang lebih luas.
Baca juga: Mundur dari Pegawai Kantoran, Muslimah Ini Sukses Kembangkan Usaha CilokSeperti usaha Omah Jenang milik Hendri Christiawan. Hendri mengaku, Omah Jenang sendiri merupakan usaha yang telah diwariskan dari bapak mertuanya.
"Walaupun rata-rata masyarakat Jawa hampir semua bisa bikin jenang, tapi usaha ini tidak mudah untuk ditiru. Jadi memang perlu waktu dalam produksi dan pemasarannya," kata dia dikutip dari kanal YouTube PecahTelur.
![Inovasi dan Kualitas Rasa Omah Jenang, Antarkan Produknya hingga Mancanegara]()
Hendri menyebutkan, melalui jenang dapat meningkatkan kemakmuran masyarakat di desanya, yakni Desa Rejowinangun, Blitar. Ia mengatakan, ketika masuk musim hajatan, selalu bermunculan usaha baru yang memproduksi jenang.
"Bisa dikatakan waktu itu sekitar 15-20 usaha sejenis di desa ini lahir. Jadi desa Rejowinangun juga terkenal sebagai desa yang perputaran uang untuk kegiatan UKM itu pernah mencapai Rp3-4 miliar," ungkapnya.
Baca juga: Keripik Tempe Bawa Mantan Pegawai Kantoran Ini Sukses Berwirausaha Seiring perkembangan zaman, permintaan jenang semakin tergerus. Untuk itu, Omah Jenang selalu berupaya menghadirkan inovasi produknya untuk meningkatkan daya saing.
![Inovasi dan Kualitas Rasa Omah Jenang, Antarkan Produknya hingga Mancanegara]()
Adapun varian jenang yang diproduksi, yakni jenang manten, wajik, madumongso, jenang ketan, jenang beras, jenang istimewa dan lainnya.
"Di sisi lain kita juga sudah merambah segmentasi pasar wisata. Jadi yang awalnya untuk hajatan, saya produksi untuk dipasarkan di kawasan wisata dari seluruh Jawa Timur, Jogja sampai Semarang," jelasnya.
Baca juga: Jadi Primadona, Milenial Ini Sukses Jadi Pebudi Daya KoiBahkan, produk Omah Jenang juga pernah diekspor hingga Taiwan dan Hongkong. Hal itu menunjukkan kualitas rasa makanan tradisional tidak kalah bersaing di tingkat mancanegara.
"Jadi selain inovasi tetap kita jalani, soal kualitas rasa juga tetap kita pertahankan. Kita perlu menjaga itu semua, karena bisnis tidak melulu soal keuntungan, tapi juga menjaga hubungan baik dengan pelanggan dan konsumen," tambahnya.
(zul)