Langit7, Jakarta - Tidak sedikit orang yang mungkin mengalami kegalauan dalam melakoni pekerjaan mereka. Terlepas dari apa pun alasannya, jalan berwirausaha biasanya menjadi pilihan terakhir yang harus ditempuh.
Seperti Susilo, muslim asal Depok ini mengaku harus mengambil keputusan untuk mundur dari pekerjaan lamanya. Hal itu dikarenakan dia dan sang istri yang disibukkan dengan pekerjaan kantor mereka masing-masing.
Kurangnya interaksi dengan anak, akhirnya membuat mereka mulai untuk berwirausaha skala rumahan, hingga tercetuslah usaha keripik tempe.
Baca juga: Tren Halal Tumbuh Positif, Kemenperin Bakal Gelar IHYA 2021Seiring perkembangannya, usaha itu kian berkembang signifikan. Bahkan, produksinya terus meningkat dari waktu ke waktu.
"Saya sekarang produksi per hari itu 125-150 kilogram dan habis. Kita di sini juga menggunakan alat potong tempe, dan dibantu dengan enam orang karyawan," jelasnya dikanal Youtube JagaLilin.
Berdasarkan perhitungannya, Susilo memperkirakan telah menguasai pasar keripik tempe sebesar lima persen untuk wilayah Jabodetabek.
Selain itu, ia juga menggunakan media
online sebagai sarana pemasarannya. Susilo mengaku, pasar online lebih mampu mendongkrak penjualan ketimbang
offline.
"Kita sadar market yang paling bagus adalah online. Karena saya anak kolonial dan bukan anak milenial, maka saya inisiatif untuk merekrut karyawan di bidang IT," ujarnya.
Baca juga: Maruf Amin Minta Peningkatan Kemitraan UMKM dengan Usaha BesarSelain menyalurkan produknya kepada agen langganan, kini dengan adanya tim pemasaran, produk keripik tempe Susilo telah beredar di berbagai
marketplace, seperti
facebook, shopee, lazada, dan lainnya.
Menurutnya, untuk membangun sebuah usaha diperlukan relasi yang baik dan ilmu yang cukup. Dari situ, kata dia, akan melahirkan peluang yang bisa dimanfaatkan untuk usaha.
"Modal sebesar apa pun, kalau kita tidak punya semangat, bakalan habis juga. Kita butuh keyakinan dan semangat untuk bisa menjalankan hingga mengembangkan bisnis," tambahnya.
Baca juga: IFF 2021, Solusi Pendanaan bagi Startup Naik Kelas(zul)