LANGIT7.ID, Beijing - Sebuah masjid berdiri tegak dan kokoh di Beijing, China. Masjid terbesar dan tertua di Ibu Kota China itu dikenal dengan nama Masjid Niujie. Kapasitas masjid diperkirakan mampu mencapai 1.000 orang, termasuk jamaah yang berada di halaman utama masjid dan jamaah perempuan.
Masjid ini pernah dikunjungi mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid dan Presiden Joko Widodo. Namun sejak Covid-19 mewabah, aktivitas masjid sudah dibatasi sebagaimana masjid dan rumah ibadah lainnya di semua negara terdampak Covid-19. Tak terkecuali pada perayaan Idul Adha tahun ini.
Di Tanah Air, pembatasan aktivitas masjid malah lebih diperketat lagi dengan berlakunya PPKM Darurat. Namun, masjid-masjid khususnya di Indonesia masih semarak dengan kegiatan pemotongan hewan qurban. Beberapa masjid di luar wilayah PPKM Darurat, bahkan diizinkan menggelar shalat Idul Adha di masjid-masjid dan lapangan.
Berbeda dengan Masjid Niujie, Beijing. Di masjid ini, ada shalat Idul Adha, namun tidak menggelar kegiatan pemotongan hewan qurban seperti tahun-tahun sebelumnya. Ditiadakannya pemotongan hewan qurban di dalam kompleks masjid yang berdiri di atas lahan seluas 10.000 meter persegi di Distrik Xicheng itu adalah bagian dari protokol kesehatan yang harus dijalankan.
Umat Islam dari berbagai latar belakang etnis di China itu antusias mengikuti shalat Id. Usai shalat Idul Adha, jamaah berangsur meninggalkan masjid. Masjid Niujie sudah dipadati jamaah sejak pukul 07.00 waktu setempat. Padahal rangkaian shalat Idul Adha dimulai pukul 08.30. Sebelum shalat Idul Adha dimulai, dewan imam Masjid Niujie dan jajaran pengurus Asosiasi Islam China (CIA) menyanyikan lagu kebangsaan “Yiyongjun Jinxingqu” di halaman dekat pintu masuk.
"Saya sudah empat kali shalat Idul Adha di sini,” kata Ma Zhi, mahasiswa asal Provinsi Gansu, ditemui
ANTARA di Masjid Niujie.
Sejak pagi petugas keamanan dibantu tenaga sukarelawan telah bersiaga di jalan raya depan masjid yang dibangun pada tahun 996 Masehi atau pada era Dinasti Liao. Dua dari empat lajur jalan raya di tengah komunitas Muslim terpadat di Beijing itu diblokir untuk akses para jamaah.
Seorang imam menyampaikan tausiyah tentang fadilah dan hikmah Idul Adha dengan menggunakan bahasa Mandarin.Dilanjutkan dengan shalat Id dua rakaat yang dirangkai dengan pembacaan dua khotbah berbahasa Arab oleh seorang khatib dan ditutup dengan doa bersama. Pada tahun-tahun sebelum pandemi, pemotongan hewan kurban di Masjid Niujie memberikan daya tarik tersendiri. Sesuai tradisi, perayaan Idul Adha di China lebih ramai daripada Idul Fitri dan perayaan hari keagamaan Islam lainnya.
Sumber: Antaranews.com(jak)