LANGIT7.ID - , Jakarta - Tahun 2021 bisa dibilang menjadi tahun yang sangat memukul industri fashion, tidak hanya di Indonesia melainkan di dunia secara global. Ketika penyebaran vaksin mulai merata di hampir seluruh wilayah di Indonesia, seperti menjadi harapan bagi semua pelaku bisnis.
Pelaku industri fashion sekaligus pengurus Masyarakat Ekonomi Syariah Amy Atmanto melihat ada dua faktoir yang mempengarauhi dunia fashion Indonesia. Menurut Amy, saat dihubungi Langit7.id pada Selasa (28/12/2021), dua penyebab itu adalah adanya pembatasan masyarakat dan menurunnya daya beli.
Baca juga: Outlook 2022, Teten : KemenKopUKM Fokus Redesign Struktur EkonomiSeperti diketahui, sepanjang tahun ini hampir semua kegiatan offline mati suri. Apalagi dengan dikeluarkannya aturan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), praktis aktivitas menjadi terhenti.
Jelas kondisi tersebut mempengaruhi daya beli masyarakat yang ikut menurun. Terlebih banyaknya pengurangan pekerjaan yang pastinya berdampak pada pengetatan ikat pinggang karena pendapatan yang ikut terganggu.
"Menurunnya daya beli, menghemat, saving itu yang terjadi di tahun 2021," kata Amy.
Bila dilihat dari sisi industri fashion, sepanjang tahun ini juga terdapat perubahan pola belanja masyarakat.
"Orang juga umumnya menurunkan kelasnya. Dari butik A turun menjadi belanja ke butik kelas B. Kelas B turun ke kelas C dan yang biasa ke butik kelas C turun ke online shop dengan memilih yang harganya sesuai." sambung desainer yang identik dengan busana muslim bergaya mediterania.
Selain perubahan pola belanja masyarakat, Amy juga menyoroti tren fesyen sepanjang tahun 2021.
Pembatasan yang diberlakukan pemerintah, membuat tren fesyen mengarah ke baju-baju santai.
"Pembatasan kegiatan membuat tidak banyak acara, sehingga banyak yang membeli dan menggunakan baju santai untuk dirumah seperti resort wear," katanya.
Penggunaan baju yang tertutup juga jadi tren di tahun ini karena rasa takut berinteraksi dengan orang lain. Tak heran, bila dunia fesyen diramaikan dengan pakaian tertutup.
"Pandemi membuat orang lebih takut untuk berinteraksi dengan orang lain. Hal ini menumbuhkan orang berpakaian lebih tertutup. Seperti model jaket atau hoodie ditambah dengan penggunaan masker banyak sekali dipakai sepanjang tahun ini," jelas pemilik label Royal Kaftan Stylish Moslem Wear ini.
Baju tertutup di sini seperti penggunaan celana dan baju panjang, atau inner kemudian outer yang menutupi tubuh. Gaya busana seperti ini yang cenderung dipakai selama masa pandemi COVID-19.
Pembatas aktivitas masyarakat juga berpengaruh di dunia kerja dan bisnis yang memberlakukan pertemuan virtual. Karenanya, untuk tetap bergaya di segala sesi virtual, banyak orang memanfaatkan scarf atau syal.
Baca juga: Amy Atmanto: Butuh Regulasi yang Dukung Pelaku Industri Fashion LokalMeski sempat mengalami fase tidur, namun perlahan industri fesyen mulai bergerak lagi. Akhir tahun pun jadi penanda pergerakan positif dari bidang ini. Amy melihat hal ini di lingkungan terdekatnya.
"Saat ini mulai bergejolak lagi, saya yang membina beberapa UMKM melihat para penjahit sudah mulai terbooking penuh untuk persiapan ramadan dan lebaran nanti." kata Amy.
(est)