LANGIT7.ID, Bandung - Hanan Attaki tak hanya dikenal sebagai ustadz muda yang sangat digemari kalangan anak-anak muda. Terutama kawula muda yang berhijrah. Pria kelahiran 12 Juni 1981 itu juga sukses mendirikan sebuah pesantren pemuda hijrah (@pesan.trend) berkonsep alam.
Pesantren yang berlokasi di Hutan Cilengkareng Bandung tersebut terinspirasi dari kehidupan masyarakat Swiss dan New Zealand yang gemar berkebun. Pesantren itu menjadi pusat kegiatan pemuda hijrah. Selama ini, pemuda hijrah masih keliling dari satu masjid ke masjid lain untuk mengadakan kajian dan
event apapun.
Dengan kehadiran pesan-trend itu, seluruh kegiatan pemuda hijrah bisa terpusat di satu tempat. Di pesantren tersebut, Hanan Attaki mendirikan beberapa fasilitas seperti masjid dan ruang belajar yang berkonsep seperti saung bambu. Pemilihan konsep itu agar lebih ramah lingkungan.
Di Sekolah Rimba Indonesia yang memiliki tagline
Learn Today, Lead Tomorrow itu pula, pemuda hijrah bisa berkumpul di kafe yang bertema alam. Ini karena semua bangunan tidak ada yang berbahan beton. Lebih banyak saung dari bambu. Aktivitas pun lebih banyak di alam seperti berkebun, memanah, hingga memelihara hewan ternak.
Terinspirasi Kehidupan di Swiss dan New Zealand Pesantren berkonsep ramah lingkungan itu terinspirasi dari tren yang telah diterapkan di beberapa negara seperti Swiss dan New Zealand. Di negara itu, konsep
sustainable sudah menjadi tren baru
lifestyle.
Dalam salah satu postingan di instagram @pesan_trend, pemuda hijrah di pesantren memang menjadikan alam sebagai tempat utama dalam belajar maupun beribadah. Seperti pada postingan yang diunggah pada 11 Desember 2021 lalu.
Dalam unggahan tersebut, terlihat beberapa anggota pemuda hijrah tengah mendirikan shalat di alam terbuka. Hanya beratap langit disertai beberapa pijar lampu sebagai penerang.
Disebutkan dalam postingan itu, beribadah di alam terbuka dapat lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Santri Tak Hanya Didik Secara Akademik Di pesantren ini, terdapat pula sekolah anak yang tidak hanya berfokus pada sisi nilai akademik saja, tetapi juga pengembanan minat dan bakat untuk menjadi pemimpin masa depan. Mereka diharapkan mampu menjadi pemimpin masa depan yang memiliki hati Qur'ani, pikiran visioner, dan
life skill yang aplikatif.
Hanan Attaki menamai sekolah itu dengan Sekolah Rimba Indonesia (SRI). SRI adalah sekolah anak setara dengan Sekolah Dasar dengan kurikulum non formal mengikuti PKBM resmi dari Diknas, sehingga tetap membuat kurikulum nasional sebesar 30 persen.
SRI dimulai dari kelas 1 SD dengan batas usia anak 6-7 tahun pada saat mendaftar. Sekolah itu memiliki 7 program unggulan di antaranya:
1. Smart Al-Qur'an Program ini berisi tahfidz, tadabbur & seni tilawah. Setiap anak akan belajar menghafal Al-Qur'an (minimal) 1 juz setiap tahun; dengan tambahan tadabbur ayat-ayat tentang iman, akhlak, dan kepemimpinan.
Anak juga dilatih membaca Al-Qur'an dengan seni maqamat seperti para imam-imam Timur Tengah, sehingga bacaan mereka lebih menyentuh dan siap menjadi muadzin serta imam masa depan.
2. Farming ClassBelajar kemandirian dan kepemimpinan dari berkebun, memelihara ikan & menggembala ternak.
3. Public Speaking Belajar tampil & berbicara di depan dengan materi story telling tentang kisah2 Islami dan tentang topik yang disukai anak; seperti menjelaskan gambarnya, mempresentasikan
project kreatifnya sendiri, dll. Anak diajarkan untuk berani naik di atas panggung
amphiteater mini.
4. Berenang, Memanah dan Berkuda Berenang secara rutin di kolam renang alami tanpa bahan kimia di SRI. Bagi kelas 3 juga ada memanah secara rutin.
5. Entrepreneur Muda Belajar menjadi pengusaha muslim di
market day. Dan belajar sifat ihsan dengan bersedekah dari sebagian hasil nya. Anak-anak akan dibawa ke mustahiq untuk menyerahkan sedekah mereka secara langsung sehingga mengasah kelembutan hati, membangun rasa empati & peduli dalam diri mereka
6. Walk in The Woods Belajar mengenal alam lewat petualangan di sekitar lingkungan sekolah yang alami. Mengenal rahasia pohon, tanah, dan hewan-hewan seperti burung dan lain-lain.
Sehingga siswa bisa belajar kemandirian dan keberanian (survival skill). Seperti memasang tenda, membuat api unggun, membuat jalur air, memasak, dll.
7. Sekolah Bersama Ayah Setiap anak diberikan kesempatan untuk membuat project bersama ayahnya di luar rumah. Setelah itu, mereka akan diminta mempresentasikan hasil project tersebut di sekolah.
(jqf)