LANGIT7.ID, Jakarta - Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai sosok suri tauladan bagi manusia dalam menjalankan segala bentuk kegiatan kehidupan. Termasuk dalam perdagangan.
Nabi Muhammad SAW saat usia remaja, menyibukkan diri dengan membantu pamannya Abu Thalib berrniaga dan menggembala domba. Seperti diketahui, Rasulullah sejak kecil hidup dalam keadaan yatim piatu dan diasuh oleh pamannya Abu Thalib.
Hidup di lingkungan pedagang, Rasulullah remaja turut serta membantu urusan perniagaan pamannya. Di sinilah jiwa pedagangnya mulai terasah dan mulai memiliki pengetahuan seluk-beluk perniagaan.
Dilansir dari ihram.co.id, Shafiyyur Rahman al Mubarakfurry dalam Sirah Nabawiyah menyebutkan, saat usia 12 tahun Nabi Muhammad SAW sudah terjun dan membantu perjalanan dagang pamannya, Abu Thalib.
Al Mubarakfurry menyebutkan, dalam urusan niaga, Rasulullah dikenal sebagai orang menjunjung tinggi nilai amanah, kejujuran, dan sikap menjaga kehormatan diri. Dari sifat kebaikan inilah ia diberi julukan al-Amin.
Beranjak di usianya saat itu masuk 17 tahun, Nabi Muhammad SAW dipercaya untuk memimpin sebuah ekspedisi perdagangan ke luar negeri. Menurut Afzalur Rahman dalam bukunya “Muhammad A Trader” karir bisnis Rasulullah yang semakin baik membuatnya dikenal luas hingga Yaman, Suriah, Yordania, Irak, Basrah, dan kota perdagangan lain di jazirah Arab.
Nabi Muhammad SAW kian dikenal dan memiliki karir cemerlang ketika ia mulai bekerja kepada wanita yang merupakan saudagar kaya di Arab, Khadijah. Pertemuan mereka hingga menjalin kepercayaan kerja sama tidak lepas dari andil pamannya, Abu Thalib.
Dikisahkan dikanal Youtube Kisah Islami, saat itu, para pebisnis Arab berencana untuk membawa dagangan mereka ke negeri Syam atau sekarang lebih dikenal dengan Suriah. Salah satunya adalah saudagar kaya Arab, Khadijah yang kebetulan sedang mencari kafilah dagangnya.
Mengetahui hal ini, Abu Thalib menemui Khadijah dan menyebutkan nama Muhammad untuk bisa membantunya dalam urusan perniagaan. Nama Muhammad yang terkenal dengan al-Amin atau orang yang dapat dipercaya, rupanya samar-samar pernah sampai ke telinga Khadijah walaupun ia sendiri belum pernah bertemu dengannya.
Hingga akhirnya diputuskan, Nabi Muhammad sebagai kafilah dagang Khadijah. Saat pertemuan keduanya berlangsung, Khadijah menjelaskan seluk –beluk perdagangan yang selama ini telah dijalankannya. Mendengarkan dan mencermati, Nabi Muhammad SAW dapat langsung memahami semua penjalasan itu.
Bersama yang lainnya, kafilah dagang Khadijah akhirnya melakukan perjalanan, termasuk Nabi Muhammad SAW di dalam rombongannya. Perjalanan melelahkan selama satu bulan dari Arab ke Suriah terbayarkan, ketika sampai dan melakukan urusan niaga, Nabi Muhammad yang cekatan, cerdas, jujur dan ramah kepada pembeli mampu menjual habis dagangan milik Khadijah.
Melihat kesuksesan dari Nabi Muhammad SAW, membuat kerjasama keduanya terus berlanjut. Bisnis Khadijah di Suriah pun semakin berkembang dan memperoleh laba yang meningkat.
Profesinya sebagai pedagang pun terus dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW hingga ia berusia 40 tahun. Saat itu, hidupnya berubah ketika Allah mengangkatnya menjadi nabi dan rasul terakhir di muka bumi untuk menyebarkan ajaran tauhid kepada ummat. Bahkan setelah diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda tentang kebaikan dalam urusan perdagangan.
Dari Rafi bin Khadij berkata, ada seseorang bertanya kepada Rasulullahh “Wahai Rasulullah pekerjaan apa yang paling baik?”
Rasulullah menjawab “Pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan tangannya dan juga setiap perdagangan yang mabrur (baik).” (HR Ahmad dalam Al-Musnad no.16628).
(zul)