Di awal tahun 2022, fenomena
spirit doll atau boneka arwah mendapat perhatian lebih dari masyarakat. Boneka itu diyakini telah dirasuki roh orang yang sudah meninggal dunia.
Selain itu, spirit doll juga diketahui pernah diadopsi oleh figur publik Tanah Air. Sehingga, tren
spirit doll di kalangan selebritas itu menjadi perhatian banyak pihak.
Peneliti Pusat Studi Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (UGM), I Made Christian Wiranata Rediana mengatakan,
spirit doll merupakan diksi masyarakat luas mengenai suatu benda, yang seakan-akan memiliki jiwa.
Baca juga: Ustaz Adi Hidayat: Ruh di Alam Barzakh Tak Bisa Kembali ke DuniaKata
'spirit' dalam benak masyarakat, mengasosiasikan sebagai kekuatan supranatural yang bersifat negatif. Padahal, dalam kenyataan
'spirit' tidak melulu bersifat negatif, melainkan juga energi positif yang menyebabkan pemiliknya menjadi terhibur, merasa bahagia, dan merasakan energi positif lainnya.
“Menurut saya,
spirit doll jauh dari kata sekadar permainan, melainkan karya seni yang dapat memancarkan sesuatu. Dapat membuat setiap orang tersugesti untuk memilikinya, dan rasa kepercayaan terhadap karya seni tersebut berimbas kepada perlakuannya," ujar Rediana seperti dilansir ugm.ac.id, Selasa (11/1).
Menurutnya, pemilik yang memperlakukan boneka layaknya anak manusia, tidak bisa serta-merta dikatakan menyimpang dan tergantung masyarakat memandangnya secara empiris.
“Penyimpangan justru tampak bila
spirit doll disalahgunakan menjadi suatu perlakuan yang mencurigakan. Misalnya menjadikan
spirit doll sebagai bahan guna-guna, menakut-nakuti seseorang, dan menjadi media pesugihan," ujarnya.
Dia berharap masyarakat seyogianya memahami bahwa setiap orang memiliki kemerdekaan terhadap kepemilikan suatu media penghibur, terlepas apa pun wujudnya.
Spirit sebaiknya perlu dipahami sebagai suatu pancaran yang tidak selalu negatif.
“Tetapi jika
spirit doll menjadi suatu kemelekatan bagi diri pribadinya, justru akan menyebabkan jiwa menjadi tidak sehat," jelasnya.
Baca juga: Apa Akibatnya Jika Anak Terpapar Konten Spirit Doll?Untuk itu, fenomena spirit doll yang dapat dinilai dari berbagai sudut pandang, perlu dilakukan dialog antara agama dan keberadaan budaya masyarakat.
Sebagai pengamat budaya, Rediana menilai, spirit doll merupakan wujud dari aktivitas kebudayaan secara pribadi ataupun masyarakat secara luas.
"Sementara agama memberi batasan yang sifatnya normatif, batasan tersebut sangat bermanfaat bila sekiranya keberadaan
spirit doll mengganggu ketenteraman pemiliknya atau masyarakat sekitarnya," jelasnya.
Rediana menyebutkan, karya seni dapat menjadi suatu karya yang menghantar pada perbuatan positif dan bermanfaat. Meskipun muncul polemik dikarenakan persepsi masyarakat yang majemuk dalam menghadapi hal tersebut.
“Penting dan perlu adalah sikap untuk bisa memahami keberadaan beserta dampaknya, baru kemudian jika ada yang kurang pas justifikasi. Begitu pun soal
spirit doll, upayakan justifikasi tidak mengintimidasi, tapi seyogianya secara bersama didialogkan, supaya sisi pemilik dan publik dapat saling memahami," imbuhnya.
Baca juga: Bagaimana Hukum Membuat dan Jual Beli Spirit Doll?(zul)