LANGIT7.ID - , Jakarta - Fenomena spirit doll tengah menjadi perbincangan di masyarakat Indonesia. Sejumlah selebriti mengaku mengadopsi boneka arwah dan memperlakukan laiknya anak sungguhan.
Sontak konten spirit doll pun banyak berseliweran di media sosial. Melihat ini, orang tua harus meningkatkan kewaspadaannya akan konten-konten spirit doll yang ada di dunia maya.
Baca juga: Bagaimana Hukum Membuat dan Jual Beli Spirit Doll?Menurut psikolog Universitas Indonesia A. Kasandra Putranto, anak yang terlalu banyak mengkonsumsi konten spirit doll di media sosial bisa mempercayai keyakinan yang salah dan bertentangan dengan kenyataan.
Kasandra menambahkan, perilaku orang yang mengadopsi spirit doll kerap memperlakukannya seperti mahluk hidup.
"Karena otaknya yang belum berkembang penuh, anak-anak cenderung untuk mempercayai apapun yang dilihat baik secara online ataupun langsung," ujar Kasandra.
Meski demikian, lanjut dia, menonton tayangan spirit doll tidak serta merta mengembangkan delusi pada anak yang merupakan gangguan psikotik.
"Karena menjadi psikotik itu harus ada faktor genetik, pola asuh, dan tekanan atau trauma," imbuh Kasandra.
Karena itu, peranan orang tua untuk mengawasi anak saat menonton konten, termasuk konten boneka arwah, sangat penting. Ini dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
Menurut Kasandra, banyaknya orang dewasa yang memiliki spirit doll juga dapat disebabkan karena mereka memiliki kebutuhan untuk memelihara atau merawat orang lain.
Selain itu, lanjut dia, adanya kebutuhan sosial yang tidak terpenuhi, misalnya perasaan kesepian atau tidak memiliki banyak teman sehingga menggunakan spirit doll sebagai pengganti.
Kemudian, kebutuhan untuk berimajinasi dengan peran tetantu yang dimainkan bersama boneka tersebut. Misalnya, spirit doll dapat menjadi pengganti anak bagi mereka yang menginginkan anak.
Baca juga: Digandrungi Selebritas, Spirit Doll Sebabkan Pendangkalan Akidah"Selain itu untuk hiburan, konten, marketing, untuk memperoleh kekayaan dan kemasyhuran, atau memang ada gangguan seperti Anatoly Moskvin (sejarawan yang membuat mayat gadis menjadi boneka)," imbuh Kasandra.
"Sebenarnya wajar-wajar saja untuk bermain dengan spirit doll selama pemilik sadar bahwa benda itu hanya boneka dan tidak dapat menggantikan sosok anak atau teman," pungkasnya.
(Sumber: Antaranews)
(est)