Wukuf di Arafah bukan sekadar prosesi pelengkap dalam rangkaian rukun Islam kelima. Ia adalah jantung dan penentu sah atau batalnya ibadah haji, sebuah maklumat hukum yang tak bisa ditawar.
Hari Arafah bukan sekadar ritus fisik, melainkan puncak momentum ketika kalimat tauhid dan permohonan manusia berkelindan dengan ijabah tertinggi dari sang pencipta alam semesta.
Arafah bukan sekadar hamparan pasir yang memanggang raga. Di bawah terik matahari, wukuf menjadi fragmen mini kiamat yang memaksa manusia menemukan pengetahuan sejati tentang jati diri dan kearifan yang melampaui ego.
Fase puncak haji dimulai. Jamaah haji Indonesia hari ini secara bertahap mulai diberangkatkan ke Arafah. Mereka akan menjalani ibadah wukuf pada Kamis,
Semasa dia berada di situ, dia telah mengambil tujuh biji batu lalu berkata pada batu itu: Hai batu-batu, saksikanlah olehmu bahwa aku bersumpah tidak ada tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu pesuruh Allah.
Badan Hisab (Dairatul Ahillah) dan Rukyat Mahkamah Tinggi Kerajaan Arab Saudi (KSA) menyatakan, puncak haji wukuf 9 Dzulhijjah 1445 H jatuh bertepatan dengan hari Sabtu, 15 Juni 2024.
Wukuf secara mudah dapat diartikan hadir di Arafah baik sengaja atau tidak dalam rentang waktu antara tergelincirnya matahari (masuk waktu Dhuhur) tanggal 9 Dzulhijjah
Tujuh jemaah haji Indonesia meninggal dunia saat puncak ibadah haji di Arafah. Mereka menghembuskan nafas terakhit saat menjalani perawatan di Klinik Kesehatan
Jika jamaah haji sudah wukuf di Arafah pada 9 Dzulhijjah, maka umat Islam dianjurkan berpuasa. Lalu bagaimana jika ada perbedaan waktu antara Indonesia dan Arab Saudi? Di saat jemaah haji wukuf, di Indonesia belum masuk 9 Dzulhijjah.