Umat Yahudi telah lama tersebar di Khaibar, Yatsrib (Madinah), Wadi al-Qura, Fadak, Taima, dan di bagian selatan, khususnya Himyar. Penyebaran agama ini diwarnai kekerasan. Salah satunya adalah para peristiwa Ashabul Ukhdud.
Penjabaran yang merinci hukum-hukum al-Qur'an yang dilakukan fiqh memperlihatkan adanya empat bidang utama yang menjadi sasaran dari hukum itu, yakni bidang 'ibadat, bidang muamalat, bidang munakahat dan bidang jinayat.
Perkembangan tafsir dapat ditinjau dari segi kodifikasi (penulisan) juga dari sudut metode penafsiran. Walaupun disadari bahwa setiap mufassir mempunyai metode yang berbeda dalam perinciannya dengan mufassir lain.
Ini adalah sekelompok kaum Yahudi yang menjadi umat Nabi Musa as. Mereka tinggal di dekat kota Elat, di pesisir Laut Merah. Allah mengharamkan mereka untuk menangkap ikan pada hari Sabtu.
Ternyata iblis telah mengadakan tawar menawar dengan Allah, minta agar hukuman kepadanya ditangguhkan sampai hari ketika manusia, keturunan Adam, dibangkitkan kelak.
Tatkala keseharian ini dipenuhi dengan Alquran, maka Allah SWT akan meninggikan derajat seseorang, meskipun ia hanyalah seorang bekas budak di mata para manusia, tetapi Allah SWT akan mengangkat dengan caranya.
Jika ayat sebelumnya mengisahkan bagaimana proses mematikan adalah perkara mudah bagi Allah SWT, maka begitupun pada surah Yasin ayat 51-52 ini dijelaskan bahwa mudah bagi Allah SWT untuk membangkitkan mereka kembali.
Pemimpin yang baik adalah menyiapkan generasi yang tangguh untuk melanjutkan nilai-nilai yang diperjuangkan. Nilai-nilai yang dimaksud adalah nilai yang mulia guna mewujudkan kehidupan yang adil dan sejahtera.
Ayat-ayat di dalam surah al-Isra', al-Kahf, al-Ahzab, Fathir, Ghafir, al-Fath, Ali 'Imran, al-Nisa, al-Anfal, dan lain sebagainya, yang berbicara tentang sunnatullah dengan berbagai formulasi.
Quraish Shihab menjelaskan, tidak sedikit ayat Al-Quran yang berbicara tentang manusia bahkan manusia adalah makhluk pertama yang telah disebut dua kali dalam rangkaian Wahyu Pertama (QS 96:1-5).
Dewasa ini diakui oleh ahli-ahli sejarah dan ahli-ahli filsafat sains bahwa sejumlah gejala yang dipilih untuk dikaji oleh komunitas ilmuwan sebenarnya ditentukan oleh pandangan terhadap realitas atau kebenaran yang telah diterima oleh komunitas tersebut.
Seseorang tidak dapat membenarkan satu teori ilmiah atau penemuan baru dengan ayat-ayat Al-Quran. Kalau demikian, apakah Al-Quran harus dipahami sesuai dengan paham para sahabat dan orang-orang tua kita dahulu?
Suatu hal yang sangat menggoda untuk direnungkan, justru pada surat-surat atau ayat-ayat yang diwahyukan di masa-masa permulaan kenabian Muhammad SAW tidak terdapat kecaman terhadap penyembahan berhala.