Kisah ini, tanpa disertai penafsiran yang ditampilkan di sini, ditemukan dalam karya klasik ternama, Akhlaq-i-Mohsini (Etika Dermawan) yang dikarang oleh Hasan Waiz Kashifi.
Gagasannya konstruktif bahwa dengan menyerap ajaran ini lewat kisah-kisah sentilan, orang-orang tertentu mampu benar-benar meningkatkan kepedihan mereka terhadap kecenderungan tersembunyi tersebut.
Kisah ini diterbitkan oleh seorang Fransiskan, Roger Bacon yang suka mengutip filsafat Sufi dan mengajar di Oxford, dan oleh karena itu ia kemudian dipecat atas perintah Paus dan Boerhaave, ahli kimia abad ketujuh belas.
Imam Ghazali mempergunakannya pada abad kesebelas dalam Al-Kimia Kebahagiaan untuk menggaris bawahi ajaran sufi bahwa hanya beberapa dari sekian benda yang kita akrabi yang memiliki pertalian dengan 'dimensi lain'
Tokoh yang sering mengulang-ulang kisah ini adalah salah seorang dari orang-orang pertama yang menyandang gelar Sufi: Jabir bin Al-Hayyan, yang dalam bahasa Latin disebut Geber, yang juga perintis al-Kimia Kristen.
Guru Haidar Gul mengatakan, Ada batasan di mana tidak baik bagi manusia untuk menyembunyikan kebenaran hanya agar tidak menyinggung perasaan mereka yang pikirannya tertutup.
Dalam lingkungan darwis, kisah ini dianggap sangat penting untuk 'membuat peka' pikiran murid, menyiapkannya menghadapi pengalaman yang tak bisa diraih dengan cara-cara biasa.
Kisah ini bisa ditafsirkan secara intuitif sesuai dengan tahap kesadaran yang dicapai oleh si murid. Yang jelas, kisah ini mengandung ajaran moral, beberapa di antaranya menekankan nilai-nilai paling mendasar dari peradaban modern
Raja yang disinggung dalam kisah ini diduga adalah mendiang Nadir Shah dari Afghanistan, yang diabdi oleh Sufi Abdul-Hamid Khan, dan yang wafat pada tahun 1933.
Benturan antara para Sufi dan pelajar biasanya tampak jelas dalam teori bahwa pemikiran-pemikiran Sufi hanya bisa dipelajari dalam kesesuaian dengan prinsip-prinsip tertentu termasuk di antaranya waktu, tempat, dan orang.